Buruh Harian Berijazah SD Berhasil Antarkan Anak Raih Gelar Sarjana - lemspsi.com
Daerah

Buruh Harian Berijazah SD Berhasil Antarkan Anak Raih Gelar Sarjana

73

Daily Wage Worker with Only an Elementary School Diploma Helps Child Earn a University Degree

Soleh, buruh tani di Kuningan yang sekolahkan anak hingga sarjana (Foto Fahmi LabibinajibdetikJabar)

KUNINGAN — Keterbatasan pendidikan tidak selalu menjadi penghalang untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Kisah itu tercermin dari sosok Soleh Ardi, warga Desa Maleber, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Di usia 54 tahun, Soleh masih menjalani kehidupan sederhana sebagai buruh harian. Ia hanya mengantongi ijazah sekolah dasar (SD), tetapi kegigihan dan kerja kerasnya berhasil mengantarkan anak-anaknya menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi.

Perjalanan hidup Soleh tidak mudah. Sejak berusia 15 tahun, ia harus kehilangan kedua orang tuanya dan hidup sebagai yatim piatu. Kondisi tersebut membuatnya terpaksa meninggalkan pendidikan dan memilih bekerja demi menyambung kehidupan.

“Saya kan dari usia 15 tahun sudah tidak punya orang tua. Jadi saya mandiri sendiri. Ya ada saudara, tapi kan saudara masing-masing punya kehidupan. Saya mandiri dari bujang sampai sekarang anak empat,” ujar Soleh.

Sejak muda, Soleh menjalani berbagai pekerjaan selama pekerjaan tersebut halal. Ia menjadi penggarap sawah milik orang lain, kuli bangunan hingga tenaga suruhan warga desa.

Penghasilannya pun tidak selalu tetap. Saat bekerja di sawah hingga siang, ia bisa mendapatkan upah sekitar Rp20.000 hingga Rp50.000. Jika pekerjaan berlanjut sampai sore, penghasilannya bisa mencapai Rp100.000.

“Saya kan di sawah. Sehari sampai zuhur Rp20.000 sampai Rp50.000. Kalau ada pekerjaan terkadang sampai sore Rp100.000. Pekerjaan apa saja, misalkan ada yang ngangkut bata, ya ngangkut. Di sawah ya macul-macul, nyangkul,” katanya.

Soleh mengaku tidak terbiasa menghamburkan uang. Penghasilan yang diperoleh setiap hari bersama istrinya digunakan secukupnya untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ketika pekerjaan sedang sepi, ia membantu istrinya berjualan dari rumah.

“Saya tidak begitu ngobrak-ngabrik uang. Hari itu ada uang, saya nikmati. Jadi tidak pernah pinjam ke sana-kemari. Cukup untuk hasil jerih payah saya sama istri, itu saya gunakan,” tuturnya.

Kedisiplinan dalam mengelola penghasilan tersebut menjadi salah satu kunci Soleh mampu membiayai pendidikan keempat anaknya. Ia tidak memaksakan pilihan pendidikan kepada anak-anaknya dan berusaha memenuhi keinginan mereka selama masih mampu.

Anak sulung Soleh kini telah menyandang gelar Sarjana Komputer dan bekerja di Jakarta. Sementara anak keduanya sedang menempuh semester empat di jurusan Ekonomi.

“Saya kan tidak memaksa anak mau ke mana-mana. Terserah anak mau sekolah ke mana, jadi saya turutin anak. Dulu yang pertama sekolah di Cirebon, sekarang jadi Sarjana Komputer. Yang kedua di FKIP jurusan Ekonomi, masih semester 4 sekarang. Alhamdulillah,” ujarnya.

Di tengah kesibukannya mencari nafkah, Soleh juga menyempatkan diri mengabdi kepada masyarakat. Selama puluhan tahun, ia mengajar mengaji anak-anak di desanya tanpa mengharapkan imbalan materi.

Bagi Soleh, ilmu yang dimiliki harus dibagikan agar memberikan manfaat dan keberkahan.

“Ilmu kan harus bermanfaat, harus dikembangkan supaya dapat berkah ilmunya. Kalau saya tidak mengharapkan apa-apa, yang penting saya bisa mengajar anak-anak,” katanya.

Dedikasinya tersebut bahkan membuat Soleh masuk nominasi Puncak Pangajen Rakyat Pinunjul yang digelar Warung Rakyat. Meski tidak menjadi pemenang utama, penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas ketulusan dan pengabdiannya.

Kini, di tahun 2026, Soleh tetap menjalani hidup dengan sederhana. Ia masih bekerja selama tubuhnya diberi kesehatan dan terus berharap anak-anaknya dapat meraih kesuksesan.

“Harapan saya, kalau saya masih sehat, insyaAllah saya akan bekerja semangat untuk menghidupi keluarga. Harapan saya anak-anak cepat sukses. Bapak sekolahnya SD, tapi pendidikan anak harus lebih baik,” pungkas Soleh.

Kisah Soleh menjadi gambaran bahwa latar belakang pendidikan dan kondisi ekonomi bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Dengan kerja keras, kesabaran, serta pengorbanan, seorang buruh harian mampu membuka jalan bagi generasi berikutnya untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi.

(Sumber : detik.com)

Exit mobile version