Anak Buruh Tani Jadi Paskibraka Indramayu, Mega Silviah Tak Malu Jual Gorengan Demi Bantu Ibu - lemspsi.com
Daerah

Anak Buruh Tani Jadi Paskibraka Indramayu, Mega Silviah Tak Malu Jual Gorengan Demi Bantu Ibu

94

Farmworker’s Daughter Becomes Indramayu Flag-Raising Officer, Mega Silviah Proudly Sells Fritters to Help Her Mother

Mega Silviah (16) salah satu anggota Paskibraka tingkat Kabupaten mengibarkan bendera merah putih di Alun-alun Indramayu, Senin (1782026)(KOMPAS.com)

INDRAMAYU, JAWA BARAT – Di balik formasi apik dan derap langkah tegas Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) Kabupaten Indramayu, terselip kisah inspiratif seorang siswi kelas XI SMKN 2 Indramayu, Mega Silviah (16).

Remaja asal Desa Brondong, Kecamatan Pasekan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, itu membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih prestasi.

Mega merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Sejak sang ayah meninggal dunia, ibunya harus menjadi tulang punggung keluarga. Sang ibu bekerja sebagai buruh tani dan berjualan gorengan setiap pagi untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Dalam kondisi ekonomi yang terbatas, keluarga besar terkadang ikut membantu memenuhi kebutuhan mereka.

Namun, Mega tidak ingin hanya berpangku tangan. Menyadari beratnya perjuangan sang ibu, ia ikut membantu dengan menjajakan gorengan buatan ibunya.

Mega bahkan terbiasa menawarkan dagangan tersebut melalui status WhatsApp pribadinya. Tak hanya itu, gorengan juga dibawanya ke sekolah untuk dijual kepada teman-temannya.

Mega mengaku sama sekali tidak merasa malu melakukan pekerjaan tersebut.

“Enggak (malu). Ngapain malu, kan cari uang,” ujar Mega sembari tersenyum saat berbincang usai upacara peringatan HUT ke-81 RI di Alun-alun Indramayu, Senin (17/8/2026).

Menurut Mega, sejumlah teman sekolahnya juga melakukan hal serupa. Ia pun merasa semakin percaya diri karena mendapat dukungan dari para guru yang mendorong siswa untuk belajar berwirausaha.

“Yang lain juga banyak kok kayak gitu. Jadi, pas jualan tuh bareng-bareng ramai, jadi enggak malu. Sama guru juga didorong buat wirausaha,” katanya.

Bagi Mega, statusnya sebagai bagian dari generasi Z bukan alasan untuk mengedepankan gengsi. Selama pekerjaan yang dilakukan halal dan menghasilkan uang, ia justru bangga dapat membantu ibunya.

Sempat Gagal karena Sakit

Perjalanan Mega hingga akhirnya menjadi anggota Paskibraka Kabupaten Indramayu juga tidak mudah.

Minatnya terhadap Paskibra sudah muncul sejak duduk di bangku SMP. Namun, ketika mendapat kesempatan mengikuti seleksi Paskibra tingkat kecamatan, Mega harus kehilangan kesempatan tersebut karena jatuh sakit dan menjalani perawatan di rumah sakit.

Memasuki SMKN 2 Indramayu, Mega tidak menyerah. Ia kembali mengikuti ekstrakurikuler Paskibra di sekolah.

Kesempatan kembali terbuka ketika pendaftaran seleksi Paskibraka tingkat Kabupaten Indramayu dibuka tahun ini. Mega memberanikan diri mendaftar dan akhirnya dinyatakan lolos.

“Ini pengalaman saya menjadi Paskibraka resmi,” ujarnya bangga.

Kebahagiaan Mega semakin lengkap karena sang ibu hadir langsung di Alun-alun Indramayu untuk menyaksikan putrinya bertugas bersama 23 anggota Paskibraka lainnya.

“Mamah ada tadi, bangga bisa dilihat mamah,” kata Mega.

Sebagai pengalaman pertama menjadi Paskibraka, Mega mengaku sempat merasakan gugup dan berdebar. Namun, dukungan para senior membuatnya lebih percaya diri.

Rasa haru semakin terasa ketika bendera Merah Putih berhasil dikibarkan dengan sempurna. Setelah kembali ke barisan, Mega beberapa kali memandang Sang Merah Putih yang berkibar gagah diterpa angin.

Bercita-cita Jadi TNI atau Polri

Pengalaman menjadi Paskibraka juga semakin menguatkan cita-cita Mega untuk mengabdi kepada negara.

Ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi salah satu langkah menuju cita-citanya mengenakan seragam TNI atau Polri.

“Pengen jadi TNI atau Polri, intinya salah satu dari itu. Semoga saja bisa, amin,” ucapnya.

Di balik keberhasilan Mega dan rekan-rekannya, terdapat peran para pelatih, salah satunya Pelda Sarjana, anggota TNI yang sehari-hari bertugas sebagai Babinsa di Koramil Tukdana.

Pelda Sarjana bertanggung jawab melatih anggota Paskibraka Kabupaten Indramayu, mulai dari teknik pengibaran bendera, baris-berbaris hingga pembentukan mental.

Para peserta digembleng secara intensif dalam delapan kali pertemuan. Latihan digelar setiap Sabtu mulai pukul 08.00 WIB hingga 15.00 WIB.

“Alhamdulillah mereka selama latihan 8 kali pertemuan, mereka tidak ada yang tumbang, tidak ada yang sakit,” kata Sarjana.

Dari 26 pelajar yang lolos seleksi, 24 orang bertugas sebagai Paskibraka Kabupaten Indramayu, sementara dua pelajar lainnya dikirim untuk bertugas di tingkat Provinsi Jawa Barat.

Menurut Sarjana, latihan bukan hanya bertujuan membentuk kemampuan fisik dan kedisiplinan. Para peserta juga terus diberi motivasi agar mampu melewati rasa lelah dan tekanan selama masa persiapan.

Ia selalu mengingatkan bahwa seluruh rasa lelah dan perjuangan selama karantina akan terbayar ketika Sang Merah Putih berhasil berkibar dengan sempurna.

Menariknya, bendera Merah Putih yang digunakan dalam upacara HUT ke-81 RI tersebut baru pertama kali digunakan para anggota Paskibraka. Selama latihan, mereka menggunakan bendera dengan warna berbeda.

“Kalau latihan itu pakai warna hijau putih, hijau kuning. Kalau yang hari ini berkibar itu baru kali ini dipakai,” ujar Sarjana.

Bagi Mega, keberhasilan menjalankan tugas sebagai Paskibraka bukan sekadar pencapaian pribadi. Setiap langkah dan penghormatan yang ia lakukan menjadi bentuk kebanggaan sekaligus bakti kepada sang ibu yang selama ini berjuang sebagai buruh tani.

Kisah Mega menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi tidak selalu menjadi penghalang untuk meraih prestasi. Di tengah perjuangan membantu keluarga, ia tetap mampu mengejar pendidikan, berjualan gorengan, berlatih Paskibra, hingga akhirnya berdiri tegap mengibarkan Sang Merah Putih di hadapan masyarakat Indramayu.

Dari keluarga sederhana, Mega kini membawa satu pesan penting: selama ada kemauan untuk berjuang, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti mengejar cita-cita.

(Sumber : kompas.com)

Exit mobile version