Kepala DKP Sulbar Bawa Strategi Transformasi Industri Rumput Laut di Forum PAIR Annual Meeting 2026 - lemspsi.com
Daerah

Kepala DKP Sulbar Bawa Strategi Transformasi Industri Rumput Laut di Forum PAIR Annual Meeting 2026

215

West Sulawesi Marine Affairs Chief Unveils Seaweed Industry Transformation Strategy at PAIR Annual Meeting 2026

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Sulawesi Barat, Safaruddin, S.DM, melakukan kunjungan kerja-deskriptif.co.id

MAMUJU – Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Sulawesi Barat, Safaruddin Sanusi DM, dijadwalkan menghadiri Partnership for Australia-Indonesia Research (PAIR) Annual Meeting 2026 yang berlangsung di Universitas Hasanuddin, Makassar, pada 20–23 Juli 2026. Kehadirannya dalam forum internasional tersebut mendapat dukungan penuh dari Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka dan Sekretaris Provinsi Sulawesi Barat Junda Maulana sebagai bagian dari upaya memperkuat pembangunan sektor kelautan dan perikanan di daerah.

Forum tahunan yang mengusung tema “Coastal Communities Sulawesi: Science, Policy and Action” itu akan menjadi wadah bagi Safaruddin untuk memaparkan strategi transformasi industri rumput laut Sulawesi Barat sebagai langkah mempercepat hilirisasi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Dalam presentasinya yang berjudul “Strategi Transformasi Industri Rumput Laut Sulawesi Barat 2026”, Safaruddin menyoroti persoalan utama sektor rumput laut, yakni masih tingginya kebocoran ekonomi akibat dominasi ekspor bahan baku mentah. Saat ini sekitar 80 persen produksi rumput laut Sulawesi Barat masih dijual tanpa melalui proses pengolahan, padahal nilai tambah di tingkat industri ekstraksi dapat meningkat hingga lima kali lipat dibandingkan penjualan bahan mentah.

Selain itu, pemanfaatan lahan budidaya rumput laut di Sulawesi Barat juga dinilai masih belum optimal. Dari total potensi lahan seluas 5.706 hektare, baru sekitar 1.951 hektare atau 34,19 persen yang telah dimanfaatkan.

“Kita tidak bisa lagi hanya bergantung pada penjualan bahan mentah. Kita harus beralih menuju ekonomi sirkular agar nilai tambah industri ini benar-benar dinikmati oleh 23.000 rumah tangga pembudidaya kita yang selama ini menjadi garda terdepan pengentasan kemiskinan,” ujar Safaruddin, Minggu (19/7/2026).

Untuk menjawab tantangan tersebut, DKP Sulawesi Barat menyiapkan strategi transformasi yang mengintegrasikan pemanfaatan teknologi, penguatan kebijakan, dan penerapan konsep ekonomi sirkular.

Pada aspek digitalisasi, pemerintah akan memanfaatkan integrasi citra satelit PlanetScope dan teknologi drone untuk memantau kondisi oseanografi secara lebih presisi sehingga dapat mendukung peningkatan produktivitas budidaya.

Sementara itu, konsep ekonomi sirkular diarahkan pada pengolahan limbah rumput laut menjadi pupuk organik atau biostimulan, serta pemanfaatan rumput laut berkualitas rendah sebagai bahan baku bioplastik ramah lingkungan.

Di bidang regulasi, hasil riset akan dimanfaatkan untuk memperkuat penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K), sekaligus mendorong penerapan sistem resi gudang agar pembudidaya memiliki posisi tawar yang lebih baik dalam rantai pemasaran.

Selama mengikuti PAIR Annual Meeting 2026, Safaruddin dijadwalkan menjadi narasumber dalam Panel Expert Talk Show bertema “Industri Rumput Laut Berkelanjutan” pada Selasa (21/7/2026) pukul 11.00–11.45 WITA.

Selain itu, ia juga akan mengikuti Research Advisory Panel Meeting pada hari yang sama pukul 15.00–17.00 WITA untuk memberikan arahan strategis terhadap pengembangan program PAIR ke depan.

Pada Rabu (22/7/2026), Safaruddin akan berperan sebagai discussant dalam Science to Policy Forum, memberikan masukan terhadap penyusunan policy briefs mengenai pengembangan ekonomi sirkular berbasis hasil penelitian.

Program PAIR Sulawesi merupakan kolaborasi penelitian bilateral antara Pemerintah Australia melalui Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) dengan Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi serta LPDP. Program ini melibatkan sekitar 180 peneliti dari 19 perguruan tinggi di Indonesia dan Australia.

Melalui partisipasi aktif dalam forum tersebut, Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat berharap hasil-hasil riset yang dihasilkan PAIR dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang aplikatif dan mampu mempercepat transformasi industri rumput laut. Langkah tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan daya saing sektor kelautan, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan sekitar 23.000 rumah tangga pembudidaya rumput laut di Sulawesi Barat. (Sumber : katinting.com)

Exit mobile version