CILEGON — PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) resmi mengumumkan kondisi keadaan memaksa (force majeure) akibat insiden kebakaran yang melanda area produksi Continuous Tandem Cold Mill (CTCM) di pabrik Cold Rolling Mill (CRM). Insiden yang terjadi pada 19 Juli 2026 tersebut berdampak langsung pada terganggunya kapasitas produksi baja canai dingin (cold rolled coil/CRC) jenis Full Hard.
Plt. Corporate Secretary Krakatau Steel, Rachman Hidayat, menyampaikan bahwa perseroan telah melaporkan fakta material ini secara resmi kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Perseroan telah mengalami peristiwa keadaan memaksa diduga sehubungan kebakaran pada area produksi CTCM (Continuous Tandem Cold Mill) di Pabrik Cold Rolling Mill (CRM),” ujar Rachman dalam keterbukaan informasi publik, Kamis (23/7/2026).
Pasokan Domestik Dipastikan Aman
Meski area produksi CTCM terdampak, manajemen menegaskan bahwa fasilitas pendukung lainnya di pabrik CRM masih beroperasi secara normal. Krakatau Steel tetap dapat memproduksi:
-
CRC Soft melalui fasilitas Batch Annealing Furnace (BAF).
-
HRPO melalui fasilitas Continuous Pickling Line (CPL).
Untuk menjaga kestabilan ketersediaan bahan baku di dalam negeri, KRAS telah menyiapkan strategi pemenuhan kebutuhan pasar melalui kolaborasi industri.
“Keberlangsungan supply CRC Full Hard nasional akan dipenuhi melalui skema kerja sama dengan perusahaan produsen CRC domestik,” tulis manajemen dalam keterbukaan informasi tersebut.
Kinerja Keuangan Kuartal I/2026: KRAS Cetak Laba Bersih
Insiden teknis ini terjadi di tengah tren pemulihan kinerja keuangan emiten berkode saham KRAS tersebut. Berdasarkan laporan keuangan per akhir Maret 2026, perseroan berhasil membalikkan posisi rugi menjadi laba bersih sebesar US$2,58 juta (sekitar Rp43,60 miliar), melonjak signifikan dari posisi rugi bersih US$46,90 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Ringkasan Kinerja Keuangan (Q1 2025 vs Q1 2026)
| Indikator Keuangan | Kuartal I/2025 | Kuartal I/2026 | Pertumbuhan (YoY) |
| Pendapatan | – | US$262,36 juta (~Rp4,43 T) | ⬆️ 11,76% |
| Beban Pokok | – | US$224,18 juta (~Rp3,79 T) | ⬆️ 1,07% |
| Laba Kotor | – | US$38,18 juta (~Rp645,24 M) | ⬆️ 194,74% |
| Laba (Rugi) Bersih | (US$46,90 juta) | US$2,58 juta (~Rp43,60 M) | 🟢 Turnaround |
Pemulihan kinerja keuangan ini ditopang oleh kontribusi lini bisnis utama:
-
Segmen Produk Baja: US$256,64 juta (~Rp4,34 triliun)
-
Segmen Sarana Infrastruktur: US$77,47 juta (~Rp1,31 triliun)
-
Segmen Rekayasa & Konstruksi: US$3,30 juta (~Rp55,77 miliar)
Efisiensi ketat yang dijalankan manajemen berhasil menekan pertumbuhan beban pokok pendapatan hanya di angka 1,07% YoY, sehingga memicu lonjakan laba kotor hingga 194,74% YoY.
(Sumber: bisnis.com)
