Kasus HIV pada 522 Anak dan Remaja di Sidoarjo Jadi Sorotan, Pakar: Jangan Panik, Perkuat Edukasi dan Deteksi Dini - lemspsi.com
Daerah

Kasus HIV pada 522 Anak dan Remaja di Sidoarjo Jadi Sorotan, Pakar: Jangan Panik, Perkuat Edukasi dan Deteksi Dini

93

HIV Cases Among 522 Children and Adolescents in Sidoarjo Draw Attention; Expert Urges Calm, Stronger Education, and Early Detection

ILUSTRASI-Kasus HIV pada 522 Anak dan Remaja di Sidoarjo

SIDOARJO – Informasi mengenai 522 anak dan remaja di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, yang teridentifikasi mengidap HIV/AIDS menjadi perhatian publik setelah ramai diperbincangkan di media sosial. Menanggapi informasi tersebut, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menegaskan bahwa angka tersebut tidak dapat langsung dimaknai sebagai lonjakan penularan baru.

Dalam keterangan resminya, Kemenkes menjelaskan bahwa meningkatnya jumlah kasus yang ditemukan merupakan dampak dari semakin luasnya layanan deteksi dini HIV. Dengan cakupan pemeriksaan yang lebih besar, semakin banyak kasus yang sebelumnya belum terdiagnosis kini berhasil ditemukan.

Pakar Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Vella Rohmayani, mengimbau masyarakat agar tidak merespons temuan tersebut dengan kepanikan maupun memberikan stigma negatif kepada Orang dengan HIV (ODHIV).

“HIV tidak menular hanya karena berjabat tangan, makan bersama, atau tinggal serumah. Penularannya sangat spesifik, yaitu melalui hubungan seksual berisiko, penggunaan jarum suntik yang tidak steril, transfusi darah yang terkontaminasi, serta penularan dari ibu kepada bayi,” jelas Vella.

Menurutnya, rendahnya literasi masyarakat mengenai HIV masih menjadi penyebab utama munculnya stigma terhadap ODHIV. Padahal, stigma tersebut justru menjadi hambatan besar dalam upaya pencegahan dan pengendalian HIV.

Vella menjelaskan bahwa banyak individu yang memiliki faktor risiko enggan menjalani pemeriksaan HIV karena takut dikucilkan. Akibatnya, infeksi baru diketahui ketika kondisi kesehatan sudah menurun sehingga meningkatkan risiko penularan kepada pasangan maupun dari ibu kepada anak.

“Yang harus dibangun bukan rasa takut terhadap ODHIV, tetapi kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini dan memperoleh informasi yang benar mengenai HIV,” tegasnya.

HIV Dapat Dikendalikan

Vella menjelaskan bahwa HIV bukan lagi penyakit yang tidak dapat dikendalikan. Dengan terapi antiretroviral (ARV) yang dijalani secara rutin sesuai anjuran tenaga kesehatan, jumlah virus dalam tubuh dapat ditekan hingga sangat rendah sehingga sistem kekebalan tubuh tetap terjaga, risiko komplikasi berkurang, dan kualitas hidup penderita meningkat.

Ia juga menyoroti kasus HIV pada anak usia PAUD dan TK yang umumnya berkaitan dengan penularan vertikal, yakni dari ibu kepada anak selama masa kehamilan, proses persalinan, maupun menyusui.

Risiko tersebut dapat ditekan melalui pemeriksaan HIV pada ibu hamil, deteksi dini, serta pendampingan dan pengobatan yang tepat selama kehamilan.

Pentingnya Skrining Sebelum Menikah

Vella menilai skrining kesehatan sebelum menikah maupun selama kehamilan merupakan langkah preventif yang sangat penting. Pemeriksaan tersebut memungkinkan faktor risiko diketahui lebih awal sehingga penanganan dapat segera dilakukan.

“Memeriksakan kesehatan sebelum menikah bukan berarti meragukan pasangan. Ini adalah bentuk ikhtiar untuk mempersiapkan keluarga yang sehat,” ujarnya.

Edukasi Remaja Harus Diperkuat

Selain pada anak, temuan kasus HIV pada kelompok usia remaja juga menjadi perhatian serius. Menurut Vella, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya memperkuat pendidikan kesehatan reproduksi yang sesuai usia dan berbasis informasi ilmiah.

Remaja perlu memperoleh pemahaman mengenai kesehatan reproduksi, perilaku yang berisiko terhadap penularan HIV, serta cara melindungi kesehatan diri dan orang lain.

Upaya tersebut, lanjutnya, harus melibatkan keluarga, sekolah, fasilitas pelayanan kesehatan, dan lingkungan sosial agar generasi muda memperoleh informasi yang benar serta tidak mencari informasi dari sumber yang keliru.

Momentum Meningkatkan Kesadaran

Vella berharap temuan kasus HIV di sejumlah wilayah Jawa Timur, termasuk Sidoarjo, menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan reproduksi, layanan konseling, serta tes HIV secara sukarela dan proaktif.

Ia menegaskan bahwa penanganan HIV harus dilakukan melalui dua pendekatan yang berjalan bersamaan, yakni memperluas akses deteksi dan pengobatan serta menghapus stigma terhadap ODHIV.

“Memastikan kesehatan sebelum menikah merupakan bagian dari upaya mempersiapkan keluarga yang sehat sehingga dapat melahirkan generasi yang sehat, cerdas, dan sejahtera,” pungkasnya.

(Sumber : um-surabaya.ac.id)

Exit mobile version