JAKARTA — Kisah pilu dan ironi memilukan dialami oleh Eva (51), seorang warga Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Di tengah perjuangan hidupnya yang serba terbatas dengan mendiami kontrakan berukuran $3 \times 3$ meter seharga Rp20.000 per hari, nama Eva justru tercatat memiliki aset bernilai Rp1 miliar dalam sistem pendataan sosial pemerintah.
Temuan janggal ini menjadi penyebab utama mengapa Eva dan keluarganya terputus dari berbagai program bantuan sosial (bansos), mulai dari Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT), hingga Kartu Jakarta Pintar (KJP) untuk anaknya.
Terdata Masuk Kelompok “Orang Kaya” (Desil 5)
Asal-usul kabar kepemilikan aset fantastis tersebut terungkap saat Eva mengecek status kepesertaan bansos miliknya melalui sistem komputer di kelurahan setempat. Berdasarkan data Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), nama Eva secara otomatis dimasukkan ke dalam kelompok Desil 5—kategori masyarakat yang dinilai berkecukupan atau mampu secara ekonomi.
Sebagai pemegang KTP DKI Jakarta yang membesarkan anak-anaknya secara mandiri usai sang suami meninggal dunia, Eva sangat mengandalkan bantuan pemerintah. Namun akibat kesalahan data tersebut, anak bungsunya yang masih duduk di kelas 4 sekolah dasar negeri tidak bisa menerima KJP.
Meski mengetahui data miliknya keliru, Eva mengaku hanya bisa pasrah karena belum memahami mekanisme pengajuan sanggahan data di tingkat kelurahan.
Tinggal di Kamar Tripleks Sempit Berpenghuni 4 Orang
Klaim kepemilikan aset Rp1 miliar tersebut berbanding terbalik dengan kondisi riil tempat tinggal Eva di kawasan padat bantaran Kali Anak Krukut, Kampung Bali.
Untuk menyambung hidup, Eva menyewa kamar berukuran $3 \times 3$ meter berbentuk huruf L di lantai dua bangunan semipermanen. Kamar bertembok tripleks tanpa pintu itu hanya diakses melalui tangga kayu yang sempit dan curam, serta dibatasi selembar gorden biru sebagai penutup.
Kamar sesak itu dihuni oleh empat orang sekaligus:
- Eva
- Anak bungsu (kelas 4 SD)
- Anak sulung
- Menantu
Sistem sewa harian sebesar Rp20.000 per hari menjadi satu-satunya pilihan yang realistis bagi Eva.
Penghasilan Merosot, Anak SD Turun Tangan Bantu Berjualan
Sehari-hari, Eva mengandalkan pendapatan dari berjualan makanan dan minuman keliling menggunakan gerobak dorong di kawasan Pasar Tanah Abang. Barang dagangannya diambil dari orang lain dengan mengambil selisih keuntungan kecil.
Belakangan ini, kondisi ekonominya semakin tertekan akibat penurunan omzet:
- Pendapatan Sebelumnya: ~Rp100.000/hari
- Pendapatan Sekarang: ~Rp40.000/hari
Sulitnya kondisi ekonomi bahkan membuat anak bungsunya sering kali turun tangan membantu berjualan sepulang sekolah demi meringankan beban sang ibu.
Dibayangi Ancaman Penggusuran Dampak Penataan Kali
Di tengah persoalan salah data bansos, Eva kini dihinggapi rasa cemas akibat munculnya wacana pelebaran Kali Anak Krukut sejauh dua meter dalam rencana penataan kawasan oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. Ia khawatir kontrakan murah yang menjadi tumpuan hidupnya ikut tergusur.
“Kurang setuju ya. Karena kalau seandainya digusur gitu tuh kan otomatis warga juga mau cari rumah yang seperti ini tuh di mana gitu kan. Di sini bayar Rp20.000 sehari, kalau di luar di atas Rp1 juta sebulan rata-rata,” pungkas Eva berharap pemerintah dapat melakukan penataan tanpa harus menggusur pemukiman warga. (Sumber : TribunNews.com)











