Viral di China, Pengangguran Pura-Pura Berangkat Kerja demi Sembunyikan Status PHK dari Keluarga - lemspsi.com
Internasional

Viral di China, Pengangguran Pura-Pura Berangkat Kerja demi Sembunyikan Status PHK dari Keluarga

157

Viral in China: Unemployed People Pretend to Go to Work to Hide Job Losses from Their Families

Jutaan Pengangguran di China Pura-Pura Berangkat Kerja, Takut Keluarga Tahu Kena PHK-FOTO ILUSTRASI AI
CHINA – Fenomena pengangguran yang berpura-pura berangkat kerja setiap pagi demi menyembunyikan status kehilangan pekerjaan dari keluarga tengah menjadi perbincangan luas di China. Di tengah sulitnya mencari pekerjaan dan ketatnya persaingan pasar tenaga kerja, sebagian warga memilih tetap menjalankan rutinitas seperti pekerja kantoran meski sudah tidak memiliki pekerjaan.

Mereka meninggalkan rumah pada pagi hari dan baru kembali pada sore atau malam hari. Selama berada di luar rumah, mereka menghabiskan waktu di taman, perpustakaan, kafe, hingga pusat perbelanjaan agar keluarga tidak mengetahui kondisi pekerjaan yang sebenarnya.

Fenomena yang dikenal sebagai fake working atau pekerja pura-pura ini mencerminkan tekanan ekonomi sekaligus beban psikologis yang dihadapi para pencari kerja. Bagi sebagian orang, kehilangan pekerjaan bukan hanya persoalan pendapatan, tetapi juga menyangkut harga diri, hubungan keluarga, dan kecemasan menghadapi masa depan.

Berdasarkan laporan Reuters yang dikutip pada Rabu (21/10/2026), perbincangan mengenai fenomena ini telah menyebar luas di berbagai platform media sosial China.

Unggahan terkait pekerja pura-pura dilaporkan meraih lebih dari 70 juta penayangan di RedNote, 610 juta penayangan di Douyin, dan 320 juta penayangan di Weibo.

Konten yang beredar mencakup tips menghabiskan waktu selama jam kerja, cara menjawab pertanyaan keluarga, hingga catatan harian orang-orang yang kehilangan pekerjaan tetapi berusaha mempertahankan rutinitas sehari-hari.

Menyembunyikan PHK demi Menghindari Kecemasan Keluarga

Salah satu kisah datang dari Coco Li, 32 tahun, mantan karyawan perusahaan properti milik negara yang telah berhenti bekerja selama lebih dari enam bulan.

Li memutuskan meninggalkan pekerjaannya setelah mengalami beban kerja berlebihan dan merasa kurang mendapatkan apresiasi dari perusahaan.

Meski sudah tidak bekerja, ia tetap berusaha menjaga agar keluarganya tidak mengetahui kondisi tersebut. Li bahkan pernah mengurungkan niat membagikan foto makan siang buatannya di grup keluarga karena khawatir ibunya mempertanyakan keberadaannya di rumah saat jam kerja.

Li mengaku tidak ingin menambah kecemasan ibunya karena khawatir persoalan tersebut justru menjadi beban emosional bagi mereka berdua.

“Dia akan jatuh ke dalam siklus kecemasan yang tak berujung dan akhirnya menularkan kecemasan itu kepada saya,” kata Li.

“Kekhawatiran ibu tidak bisa benar-benar menyelesaikan masalah saya.”

Pengalaman Li memperlihatkan bahwa sebagian pencari kerja memilih menyembunyikan status pengangguran bukan semata-mata untuk menjaga citra diri, tetapi juga untuk menghindari tekanan emosional dari orang-orang terdekat.

Mereka berusaha mempertahankan kesan bahwa kehidupan profesional masih berjalan normal, meskipun kenyataannya sedang menghadapi ketidakpastian pekerjaan.

Keluar Rumah Sebelum Pukul 09.00 dan Pulang Setelah Pukul 18.00

Kondisi serupa dialami Susan Sun, 28 tahun, yang menyembunyikan status pemutusan hubungan kerja (PHK) dari perusahaan internet tempatnya bekerja sejak akhir tahun sebelumnya.

Situasinya semakin sulit ketika ibu dan ayah tirinya pindah untuk tinggal bersamanya di Chongqing pada Mei.

Agar rahasianya tidak terbongkar, Sun terpaksa meninggalkan rumah sebelum pukul 09.00 dan baru kembali setelah pukul 18.00. Rutinitas tersebut membuat keluarganya mengira ia masih menjalani aktivitas pekerjaan seperti biasa.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Sun mengandalkan sisa uang pesangon dan tunjangan pengangguran sebesar 1.864 yuan per bulan, atau sekitar Rp5 juta berdasarkan nilai konversi yang dilaporkan.

Kisah Sun menggambarkan beratnya tekanan yang harus ditanggung pencari kerja ketika kehilangan penghasilan sekaligus berusaha mempertahankan rahasia dari keluarga.

Di tengah kebutuhan sehari-hari yang terus berjalan, mereka harus mengatur keuangan, mencari peluang kerja baru, dan menghadapi kecemasan tanpa selalu bisa menceritakan keadaan sebenarnya kepada orang terdekat.

Krisis Properti dan Persaingan Kerja Memperburuk Situasi

Fenomena pekerja pura-pura tidak dapat dilepaskan dari tekanan ekonomi yang melanda sejumlah sektor industri di China.

Persaingan di industri berorientasi ekspor, krisis sektor properti yang berkepanjangan, serta tekanan terhadap keuangan pemerintah daerah turut memengaruhi kondisi ketenagakerjaan.

Sejumlah perusahaan berupaya mempertahankan bisnis dengan memangkas biaya operasional, termasuk mengurangi jumlah karyawan. Sementara itu, pekerja yang masih bertahan harus menghadapi kemungkinan bertambahnya beban kerja.

Di sisi lain, mereka yang kehilangan pekerjaan harus bersaing dengan banyak pencari kerja untuk memperoleh posisi baru.

Situasi ini membuat masa menganggur menjadi semakin sulit, terutama bagi pekerja yang memiliki tanggungan keluarga atau menghadapi tekanan sosial untuk segera kembali bekerja.

AI Ikut Menjadi Sorotan dalam Pemangkasan Karyawan

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) turut menambah kekhawatiran terhadap masa depan pekerjaan di sejumlah industri.

Zhang, 36 tahun, seorang produser efek visual, mengaku kehilangan pekerjaan akibat perampingan yang dikaitkan dengan penggunaan AI pada Agustus 2026.

Setelah kehilangan pekerjaan, Zhang mendapati perpustakaan ramai pada hari kerja. Pemandangan tersebut membuatnya terkejut karena ia tidak menyangka begitu banyak orang menghabiskan waktu di tempat itu saat jam kerja.

“Saya tidak akan pernah percaya bahwa perpustakaan akan terisi penuh pada hari kerja,” katanya.

Pengalaman Zhang menunjukkan bagaimana perubahan teknologi dan kebijakan efisiensi perusahaan dapat memengaruhi kehidupan para pekerja.

Meski demikian, AI bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi kondisi ketenagakerjaan. Perlambatan sektor tertentu, tekanan ekonomi, perubahan kebutuhan industri, dan persaingan tenaga kerja juga berperan dalam meningkatnya ketidakpastian pekerjaan.

Pengamat: Pekerja Pura-Pura Berkaitan dengan Harga Diri dan Kecemasan Sosial

Profesor Madya Politik China di Cornell University, Diana Fu, menilai praktik berpura-pura bekerja dapat membantu sebagian warga mempertahankan harga diri sekaligus meredam potensi ketidakpuasan sosial.

Menurut Fu, fenomena tersebut berkaitan dengan tantangan pemerintah dalam menyeimbangkan kemajuan otomatisasi dan perlindungan terhadap keamanan kerja.

“Pekerja pura-pura ini membantu pemerintah China menghindari pilihan sulit antara melompat maju dalam otomatisasi dan melindungi keamanan kerja, yang sangat penting bagi kontrak sosial,” ujarnya.

Sementara itu, Yige Dong, Asisten Profesor Sosiologi di University at Buffalo, mengingatkan bahwa keterbatasan jaring pengaman sosial dapat membuat pengangguran kesulitan mempertahankan rutinitas tersebut dalam jangka panjang.

Ketika tabungan semakin menipis dan kebutuhan hidup terus meningkat, mereka mungkin terpaksa meminta bantuan keuangan kepada keluarga atau kerabat.

Kondisi itu berpotensi membuat status pengangguran yang selama ini disembunyikan akhirnya terungkap.

“Individu mungkin akan lebih peduli dengan mengumpulkan sumber daya dari semua sumber yang tersedia, termasuk meminjam dari anggota keluarga dan kerabat,” kata Dong.

Bukan Sekadar Kehilangan Pekerjaan

Fenomena ini mengingatkan pada pengalaman sebagian pekerja di Korea Selatan dan Jepang yang menyembunyikan status pengangguran selama krisis keuangan Asia pada 1990-an.

Meski kondisi ekonomi setiap negara berbeda, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kehilangan pekerjaan dapat membawa dampak yang lebih luas daripada sekadar berkurangnya pendapatan.

Bagi sebagian orang, pengangguran juga dapat memengaruhi kepercayaan diri, hubungan keluarga, dan kemampuan menghadapi tekanan sosial.

Fenomena pekerja pura-pura di China menjadi gambaran tentang perjuangan para pencari kerja untuk mempertahankan kehidupan sehari-hari di tengah ketidakpastian ekonomi.

Di balik rutinitas berangkat pagi dan pulang sore yang tampak biasa, terdapat persoalan yang lebih dalam: sulitnya memperoleh pekerjaan, ketakutan mengecewakan keluarga, serta tekanan untuk tetap terlihat berhasil ketika kehidupan profesional sedang berada dalam masa sulit. (Sumber : pikiran-rakyat.com)

Exit mobile version