Disnaker Balikpapan Ubah Pola Pelatihan Kerja, Peserta Disiapkan Sesuai Kebutuhan Dunia Usaha - lemspsi.com
Daerah

Disnaker Balikpapan Ubah Pola Pelatihan Kerja, Peserta Disiapkan Sesuai Kebutuhan Dunia Usaha

59

Balikpapan Manpower Office Changes Job Training Approach, Preparing Participants to Meet Business Needs

Disnaker Balikpapan Ubah Pola Pelatihan Kerja, Lulusan Disiapkan Langsung Masuk Dunia Kerja-FOTO ILUSTRASI AI
BALIKPAPAN – Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan, Kalimantan Timur, mengubah pendekatan program pelatihan kerja dengan mengutamakan kebutuhan nyata dunia usaha. Melalui Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker), program ini dirancang agar peserta tidak hanya memperoleh keterampilan dan sertifikat, tetapi juga memiliki peluang penempatan kerja setelah menyelesaikan pelatihan.

Kepala Disnaker Kota Balikpapan, Adamin Siregar, mengatakan pelatihan akan disusun berdasarkan kebutuhan tenaga kerja yang diajukan langsung oleh pelaku usaha. Dengan skema tersebut, perusahaan dapat menyampaikan jenis pekerjaan, jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan, sekaligus mengusulkan calon pekerja untuk mengikuti pelatihan.

“Pencari kerja bisa mengikuti, tetapi ada syarat. Ada pernyataan bahwa setelah dilatih dia akan ditempatkan bekerja,” kata Adamin, Kamis (8/10/2026).

Menurut Adamin, pola ini membuat pelatihan lebih terarah karena kebutuhan tenaga kerja telah diketahui sejak awal. Peserta tidak sekadar mengikuti pelatihan untuk meningkatkan keterampilan, tetapi juga dipersiapkan untuk mengisi posisi pekerjaan yang tersedia.

Pelaku Usaha Bisa Mengajukan Kebutuhan Tenaga Kerja

Adamin mencontohkan, sebuah bengkel yang membutuhkan lima montir dapat mengajukan permohonan kepada Disnaker. Pemilik bengkel kemudian membuat pernyataan bahwa calon pekerja yang dilatih akan ditempatkan bekerja di usaha tersebut setelah menyelesaikan pelatihan sesuai persyaratan.

“Misalnya ada bengkel yang membutuhkan lima orang montir. Pemiliknya membuat pernyataan bahwa orang yang sudah dilatih nantinya akan menjadi pekerja di bengkelnya,” ujarnya.

Skema serupa dapat diterapkan pada berbagai sektor usaha yang membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan tertentu. Usaha laundry, barbershop, hingga bidang usaha lainnya bisa mengajukan kebutuhan pekerja sebagai dasar penyelenggaraan pelatihan.

Bahkan, pelaku usaha yang sedang mengembangkan bisnis atau membuka cabang baru dapat mengajukan kebutuhan tenaga kerja sejak awal. Dengan demikian, proses penyiapan pekerja dapat berjalan seiring dengan pengembangan usaha.

“Kalau ada usaha laundry yang membuka beberapa cabang dan membutuhkan tenaga kerja, itu juga bisa. Satu cabang membutuhkan dua orang, misalnya, bisa kita latih,” jelas Adamin.

Jumlah peserta pelatihan tidak ditetapkan secara seragam. Disnaker akan menyesuaikan jumlah dan jenis pelatihan dengan kebutuhan masing-masing usaha sehingga keterampilan yang diberikan lebih relevan dengan pekerjaan yang akan dijalankan.

Terbuka bagi Pencari Kerja, Pekerja Aktif, dan Korban PHK

Program pelatihan berbasis kebutuhan dunia usaha ini tidak hanya ditujukan bagi masyarakat yang sedang mencari pekerjaan. Pekerja yang masih aktif juga dapat mengikutinya apabila membutuhkan peningkatan keterampilan untuk mendukung produktivitas dan pengembangan kemampuan kerja.

Selain itu, pekerja yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) dapat memanfaatkan program tersebut untuk meningkatkan kompetensi sebelum kembali memasuki pasar kerja.

Pendekatan ini diharapkan dapat mempertemukan kebutuhan perusahaan dengan ketersediaan tenaga kerja yang memiliki keterampilan sesuai kualifikasi pekerjaan. Di satu sisi, pencari kerja memperoleh kesempatan meningkatkan kompetensi. Di sisi lain, pelaku usaha dapat menyiapkan calon pekerja sesuai kebutuhan operasionalnya.

Program Ditargetkan Berjalan hingga Desember 2026

Disnaker Kota Balikpapan menargetkan program pelatihan berbasis kebutuhan dunia usaha tersebut berjalan hingga Desember 2026. Pemkot pun mengimbau pelaku usaha maupun masyarakat yang berminat mengikuti program agar segera mengajukan permohonan dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan.

“Siapa yang lebih cepat mengajukan dan memenuhi persyaratan, dia yang lebih dulu mendapatkan,” kata Adamin.

Adamin menegaskan, keberhasilan program tidak semata-mata diukur dari jumlah peserta yang mengikuti pelatihan atau sertifikat yang diterbitkan. Hal yang lebih penting adalah kesesuaian keterampilan peserta dengan kebutuhan pasar kerja serta adanya peluang penempatan setelah pelatihan selesai.

“Yang kita harapkan, keterampilan yang diberikan memang sesuai kebutuhan dunia usaha. Jadi setelah dilatih ada tempat untuk bekerja,” pungkasnya.

Melalui pendekatan tersebut, Pemkot Balikpapan berupaya menjadikan pelatihan kerja sebagai jembatan yang lebih efektif antara pencari kerja dan dunia usaha. Keterampilan yang diberikan diharapkan tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi dapat dimanfaatkan secara langsung untuk memasuki dunia kerja. (Sumber : portalberau.online)

Exit mobile version