Tangis Haru Buruh Cimahi Pecah Usai Pabrik Tutup, 178 Karyawan Kena PHK Massal - lemspsi.com
Daerah

Tangis Haru Buruh Cimahi Pecah Usai Pabrik Tutup, 178 Karyawan Kena PHK Massal

109

Tearful Farewell as Cimahi Factory Shuts Down, 178 Workers Hit by Mass Layoffs

Tangkapan video viral ratusan buruh garmen di Kota Cimahi, Jawa Barat yang mengalami PHK massal.(KOMPAS.com)

CIMAHI — Momen haru menyelimuti area PT Namnam Fashion Industries di Jalan Mahar Martanegara, Kelurahan Cigugur Tengah, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi, Jawa Barat. Tangis pecah di antara ratusan buruh garmen setelah perusahaan secara resmi menghentikan seluruh kegiatan produksinya. Video perpisahan para pekerja yang saling berpelukan erat sembari meneteskan air mata tersebut viral di berbagai platform media sosial.

178 Buruh Terdampak PHK

Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Cimahi, Asep Jayadi, membenarkan adanya penghentian produksi yang berimbas pada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal tersebut. Sebanyak 178 pekerja dipastikan terdampak oleh kebijakan ini.

“Menurut informasi di lapangan memang ada PHK, totalnya itu 178 orang,” ujar Asep saat dihubungi, Senin (3/8/2026).

Asep menjelaskan, perusahaan diduga sudah tidak sanggup lagi mempertahankan operational bisnisnya di industri garmen. Kerugian yang terus membengkak ditengarai menjadi alasan utama di balik langkah efisiensi ekstrem ini.

“Katanya ada efisiensi kerugian, mereka sudah enggak kuat memproduksi garmen, rencana mau berubah jenis usaha juga. Kami sekarang mau melakukan penelusuran dulu untuk kepastiannya,” tambah Asep.

Pihak Disnaker Kota Cimahi saat ini tengah mengumpulkan informasi serta melakukan verifikasi langsung ke lapangan guna memastikan penyebab utama penutupan pabrik, sekaligus mengawal proses hak-hak para pekerja yang terkena PHK.

Sepi Pesanan Sejak 2019 Jadi Pemicu Utama

Menanggapi fenomena ini, Ketua DPC Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Kota Cimahi, Pepet Saeful Karim, mengungkapkan bahwa penurunan volume pesanan (order) menjadi akar masalah terpuruknya kondisi finansial PT Namnam Fashion Industries.

Menurut Pepet, tren penurunan pesanan sudah terasa sejak 2019 dan kian diperparah oleh badai pandemi Covid-19 pada 2020 lalu.

  • 2019: Tren pesanan mulai mengalami penurunan.

  • 2020: Pandemi Covid-19 memperburuk iklim industri tekstil dan garmen.

  • 2026: Pesanan anjlok ke titik terendah (drop total), memaksa pabrik tutup.

“Betul telah terjadi PHK atau efisiensi pengurangan karyawan dikarenakan order PT Namnam terus berkurang dari tahun 2019. Puncaknya di tahun ini 2026 order drop, khususnya di sektor garmen,” ungkap Pepet.

Penurunan drastis pada permintaan pasar inilah yang akhirnya memaksa manajemen mengambil keputusan pahit: merumahkan seluruh pekerja dan menghentikan mesin-mesin produksi garmen di pabrik tersebut.

(Sumber : kompas.com)

Exit mobile version