Nasional

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, BI Tegaskan Siap Intervensi Pasar

82
×

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, BI Tegaskan Siap Intervensi Pasar

Sebarkan artikel ini

Rupiah Hits IDR 18,000 per US Dollar, Bank Indonesia Vows to Intervene in the Market

Rupiah Kembali Melemah, Dolar AS Sentuh Rp18.000-FOTO ILUSTRASI AI

JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (16/10/2026). Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa meningkatnya sentimen risk-off di tingkat global yang memicu penguatan dolar AS menjadi salah satu pendorong utama tekanan terhadap mata uang Garuda.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka melemah 0,33% ke level Rp17.980 per dolar AS. Tekanan tersebut kian terasa hanya dua menit setelah pembukaan perdagangan—tepatnya pukul 09.02 WIB—ketika rupiah menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar AS, atau terkoreksi sebesar 0,45%.

Menanggapi gejolak tersebut, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menegaskan bahwa bank sentral akan terus mengawal dan berada di pasar keuangan untuk menjaga stabilitas nilai tukar sesuai dengan fundamental ekonomi nasional.

“Bank Indonesia berkomitmen untuk terus hadir di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah sesuai fundamentalnya dan memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik,” ujar Erwin dalam keterangannya, Jumat (16/10/2026).

Sentimen Risk-Off Global Pemicu Capital Outflow

Erwin menjelaskan, tekanan terhadap rupiah terjadi seiring dengan meningkatnya sentimen risk-off di pasar global. Kondisi ini memicu para investor untuk mengamankan aset mereka dengan menghindari instrumen berisiko dan beralih ke aset yang dinilai aman (safe-haven), seperti dolar AS.

BACA JUGA:  OJK Wanti-wanti Risiko Baru Industri Perbankan di Era Aset Digital dan AI

Situasi tersebut berpotensi melanjutkan tren arus modal keluar (capital outflow) dari aset portofolio domestik. Kendati demikian, BI menilai bahwa dinamika pergerakan rupiah saat ini masih terbilang sejalan dengan mata uang negara-negara di kawasan regional, di mana pelemahan rupiah secara quarter-to-date (QTD) relatif terbatas sebesar 0,28%.

Bauran Strategi BI Meredam Tekanan

Untuk menahan laju pelemahan dan meredam ketidakpastian, BI menjalankan langkah-langkah stabilisasi melalui berbagai instrumen pasar moneter:

  1. Intervensi Pasar Valas: Melakukan transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri, serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
  2. Pembelian SBN: Membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk menjaga stabilitas harga obligasi negara.
  3. Pengelolaan Likuiditas: Menjaga kecukupan likuiditas dan mengelola struktur suku bunga di pasar uang domestik.
  4. Koordinasi & Komunikasi: Memperkuat sinergi dan komunikasi secara intensif dengan pelaku pasar, korporasi, serta pemangku kepentingan terkait.
BACA JUGA:  Industri Tekstil Masih Tertekan di Semester II 2026, Impor Murah dan Lemahnya Permintaan Jadi Tantangan

Cadangan Devisa Jadi Benteng Pertahanan

Di tengah tingginya gejolak pasar keuangan global, BI mempertegas bahwa posisi ketahanan eksternal Indonesia masih dalam kondisi terjaga. Erwin mengungkapkan, posisi cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$146,3 miliar pada akhir September 2026.

Posisi cadangan devisa tersebut menjadi penopang utama dalam menjaga stabilitas eksternal nasional. Ke depan, BI menegaskan akan terus mencermati dinamika pasar secara cermat dan siap menempuh langkah-langkah stabilisasi yang diperlukan agar pergerakan rupiah tetap mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia. (Sumber : detiknews.com)