JAKARTA — Pemutusan hubungan kerja (PHK) pada usia 30-an tidak hanya membawa dampak terhadap kondisi finansial dan perjalanan karier. Kehilangan pekerjaan juga dapat memicu tekanan emosional dan proses berduka yang dalam sejumlah kasus tetap dirasakan meski seseorang telah mendapatkan pekerjaan baru.
Laporan Channel NewsAsia (CNA), Sabtu (19/9), mengutip sejumlah konselor dan pakar sumber daya manusia yang menjelaskan bahwa dampak emosional akibat PHK dapat berlangsung lebih lama dibandingkan masa seseorang menganggur.
Bagi pekerja berusia 30-an, kehilangan pekerjaan dapat terasa semakin berat. Pada fase tersebut, seseorang umumnya sedang membangun stabilitas finansial, keluarga, sekaligus karier. Ketika pekerjaan tiba-tiba hilang, sejumlah aspek kehidupan tersebut dapat ikut terguncang.
Psikoterapis Michelle Mah dari The Curious Bonsai mengatakan PHK pada usia 30-an terjadi ketika seseorang menghadapi berbagai tuntutan kehidupan secara bersamaan.
“PHK di usia 30-an menghantam langsung persinggungan antara komitmen finansial, jam biologis, dan pembentukan identitas pada masa puncak,” ujar Mah.
Menurutnya, kehilangan pekerjaan juga dapat mengguncang keyakinan seseorang terhadap perjalanan hidup yang selama ini dibangun. Ia menyebut sebagian kliennya merasa tertinggal dibandingkan teman-teman sebaya setelah kehilangan pekerjaan.
Tidak sedikit pula yang memilih menarik diri dari lingkungan sosial karena merasa khawatir harus menjelaskan kondisi pekerjaan mereka kepada orang lain.
PHK Memicu Proses Berduka
Konselor Chloe Tan dari layanan konseling Talk Your Heart Out mengatakan kehilangan pekerjaan dapat memunculkan berbagai emosi yang menyerupai proses berduka.
“PHK dapat memicu berbagai emosi yang serupa dengan kesedihan akibat kehilangan,” kata Chloe.
Menurutnya, pekerja yang terkena PHK tidak hanya kehilangan posisi dan sumber penghasilan. Mereka juga dapat kehilangan rasa memiliki terhadap lingkungan kerja, rutinitas, hubungan dengan rekan kerja, hingga gambaran mengenai masa depan karier.
Kondisi tersebut membuat proses pemulihan tidak selalu selesai ketika seseorang kembali mendapatkan pekerjaan.
Data Kementerian Tenaga Kerja Singapura menunjukkan sekitar 60,7 persen penduduk Singapura yang terkena PHK mendapatkan pekerjaan baru dalam waktu enam bulan.
Namun, pekerjaan baru belum tentu langsung menghapus dampak emosional dari pekerjaan sebelumnya.
CNA mengisahkan pengalaman seorang pekerja yang terkena PHK ketika berusia 31 tahun. Ia berhasil memperoleh pekerjaan baru sekitar enam bulan setelah kehilangan pekerjaan. Meski demikian, hampir setahun kemudian, dampak emosional dari PHK tersebut masih dirasakan.
Chloe mengatakan seseorang yang mengalami PHK perlu memberikan ruang bagi dirinya untuk mengakui kehilangan tersebut sebelum berusaha memaksakan diri untuk segera melupakannya.
Ia juga mendorong pekerja membangun kembali hubungan sosial di luar lingkungan pekerjaan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan menghubungi teman dan keluarga, mengikuti kegiatan sukarela, maupun bergabung dengan komunitas yang memiliki minat serupa.
Tekanan untuk Segera Kembali Produktif
Selain kehilangan pendapatan, masa menganggur juga dapat menimbulkan rasa bersalah dan tekanan untuk segera kembali produktif.
Perbandingan dengan teman sebaya maupun pengguna media sosial yang terlihat tetap aktif dan produktif dapat membuat seseorang merasa tertinggal.
Chloe menyarankan pekerja membatasi paparan terhadap konten media sosial yang justru memicu rasa tidak mampu atau perasaan tertinggal.
Menurutnya, masa pengangguran tidak harus selalu diisi dengan aktivitas yang terlihat menarik atau produktif di mata orang lain.
“Pengangguran Anda tidak harus terlihat menarik, penuh petualangan, atau produktif agar tetap bermakna. Jika Anda sedang berduka, membayar tagihan, dan berusaha menemukan kembali pijakan, itu saja sudah merupakan hal yang besar,” ujarnya.
Pengalaman dan Kemampuan Tidak Hilang
Pakar perekrutan Stephanie Tan dari Ethos BeathChapman menegaskan bahwa kehilangan pekerjaan tidak menghapus pengalaman dan kemampuan yang telah dibangun seseorang selama bertahun-tahun.
“Tahun-tahun pengalaman yang telah mereka bangun tidak hilang hanya karena pekerjaan itu hilang,” kata Stephanie.
Sementara itu, David Blasco, direktur negara Randstad Singapura, mengatakan pekerja muda yang mengalami PHK dapat mempertimbangkan perubahan arah karier setelah melewati fase awal kehilangan pekerjaan.
“Setelah keterkejutan awal mereda, ini benar-benar menjadi kesempatan untuk menata kembali arah. Ketika bekerja, kita sering hanya menaiki tangga yang ada di depan tanpa bertanya apakah tangga itu bersandar pada dinding yang tepat,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa masa setelah PHK tidak selalu harus dipandang semata-mata sebagai periode mencari pekerjaan pengganti. Bagi sebagian pekerja, periode tersebut juga dapat menjadi kesempatan untuk mengevaluasi kembali arah karier dan tujuan profesional.
Menata Kembali Identitas
Michelle Mah menilai tantangan lain setelah PHK berkaitan dengan identitas seseorang.
Di Singapura, pekerjaan kerap dipandang bukan hanya sebagai sumber penghasilan, tetapi juga bagian penting dari identitas sosial dan profesional seseorang. Ketika identitas terlalu erat dikaitkan dengan pekerjaan, kehilangan pekerjaan dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri.
“Bagi banyak dari kita di Singapura, pekerjaan jarang hanya menjadi sumber penghasilan. Ketika identitas dan karier menyatu, PHK dapat terasa seperti kehancuran eksistensial,” kata Mah.
Ia mendorong kliennya melakukan apa yang disebut sebagai “audit identitas”, yakni mengenali kembali nilai-nilai pribadi, kegiatan kreatif, hubungan sosial, serta aspek kehidupan lain yang tidak berkaitan langsung dengan pekerjaan.
Menurut Mah, langkah tersebut penting agar seseorang tidak mendefinisikan seluruh dirinya berdasarkan jabatan atau tempat bekerja.
Jangan Mengubah Pencarian Kerja Menjadi Tekanan Baru
Mah juga mengingatkan pekerja yang terkena PHK agar tidak terjebak dalam pencarian kerja secara berlebihan hanya karena ingin segera menghilangkan rasa cemas.
Menurutnya, mengirim puluhan lamaran setiap hari memang dapat terlihat sebagai bentuk produktivitas. Namun, kondisi emosional yang belum stabil dapat membuat seseorang kesulitan mengambil keputusan secara jernih dan strategis.
“Godaan spontan adalah bekerja sangat keras untuk keluar dari krisis dengan mengirim lamaran atau melamar 50 pekerjaan atau lebih setiap hari. Ini bisa terlihat sebagai produktivitas. Namun, sistem saraf yang tidak teratur dan berada dalam kondisi terancam tidak dapat membuat keputusan yang jelas dan strategis,” ujarnya.
Karena itu, proses pemulihan setelah PHK perlu memperhatikan dua aspek sekaligus, yakni kondisi finansial dan kesejahteraan emosional.
Chloe mengatakan kepercayaan diri setelah kehilangan pekerjaan umumnya tidak kembali secara instan. Pemulihan dapat berlangsung secara bertahap melalui langkah-langkah kecil dan pengalaman baru.
“Kepercayaan diri sering kembali secara bertahap melalui langkah-langkah kecil, pengalaman baru, dan pengingat bahwa Anda masih mampu. Tujuannya adalah terus bergerak maju sambil tetap memperhatikan kondisi keuangan dan kesejahteraan emosional,” ujarnya.
Dengan demikian, mendapatkan pekerjaan baru bukan selalu menjadi tanda bahwa dampak PHK telah berakhir. Bagi sebagian pekerja, proses untuk membangun kembali kepercayaan diri, identitas, hubungan sosial, serta rasa aman setelah kehilangan pekerjaan dapat membutuhkan waktu lebih panjang.
(Sumber : mediaindonesia.com)
