BATAM — Nasib 1.025 pekerja PT Ghim Li Indonesia hingga kini masih belum menemui kepastian. Selama 21 hari sejak 7 September 2026, para pekerja bergantian bertahan di dua tenda biru yang didirikan di depan gerbang perusahaan untuk menjaga aset sekaligus menuntut kepastian atas pembayaran gaji, pesangon, dan kompensasi ketenagakerjaan.
Hujan deras yang mengguyur Batam pada Minggu (27/9/2026) tidak menyurutkan para pekerja untuk meninggalkan lokasi. Mereka tetap menjalankan pembagian tugas secara bergiliran. Pekerja laki-laki bertugas pada malam hari, sedangkan pekerja perempuan berjaga sejak pagi hingga malam.
Pada hari kerja, Senin hingga Jumat, para pekerja juga tetap melakukan absensi di lokasi perusahaan.
Namun, selama menunggu penyelesaian persoalan tersebut, kebutuhan sehari-hari para pekerja di tenda sebagian besar masih mengandalkan bantuan masyarakat dan rekan-rekan sesama pekerja. Donasi berupa nasi, ikan, minyak goreng, dan kebutuhan pokok lainnya datang secara tidak menentu.
Ketika bantuan makanan dan uang tidak tersedia, mie instan menjadi salah satu pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan makan para pekerja.
Seorang pekerja bagian jahit yang telah bekerja sejak 2008, Olidawati, mengatakan kondisi tersebut tidak hanya berdampak kepada pekerja yang bertahan di lokasi, tetapi juga kepada keluarga mereka di rumah.
“Kalau kami bisa makan di sini karena ada donatur. Tapi keluarga kami di rumah tidak tahu mau makan apa. Kami sudah bisa makan di sini, tetapi keluarga di rumah belum tentu,” ujar Olidawati, Minggu (27/9/2026).
Ia berharap pemerintah dan pihak perusahaan segera menyelesaikan persoalan tersebut sehingga hak-hak para pekerja dapat dibayarkan.
Persoalan ini juga berkaitan dengan PT Gelora Indah Tunas. Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kepulauan Riau, Diky Wijaya, sebelumnya menyampaikan bahwa tim gabungan dari Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau dan Pemerintah Kota Batam telah melakukan penelusuran terkait persoalan pesangon di Jakarta dan Bekasi pada Kamis (24/9/2026).
Pemerintah dijadwalkan kembali menggelar pertemuan koordinasi untuk membahas nasib 1.025 pekerja tersebut pada Senin (28/9/2026) pukul 15.00 WIB.
Sementara menunggu hasil koordinasi dan keputusan resmi, para pekerja menyatakan akan tetap bertahan di tenda perjuangan di depan perusahaan hingga terdapat kepastian mengenai pembayaran hak-hak mereka.
Bagi para pekerja, bertahan di bawah tenda bukan sekadar menjaga aset perusahaan, tetapi juga menjadi bentuk penantian atas kepastian nasib mereka dan keluarga yang menggantungkan kehidupan dari penghasilan sebagai pekerja. (Sumber : gowest.id)
