Mantan Insinyur Adobe Banting Setir Jadi Sopir Bus Sekolah Setelah Setahun Sulit Cari Kerja - lemspsi.com
Internasional

Mantan Insinyur Adobe Banting Setir Jadi Sopir Bus Sekolah Setelah Setahun Sulit Cari Kerja

95

Former Adobe Engineer Switches Careers to Become a School Bus Driver After Struggling to Find Work for a Year

Mantan karyawan Adobe yang kini berkarier sebagai sopir bis sekolah.(LinkedInJamesStrawn)

COLORADO, AS — Pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri teknologi membuat seorang mantan insinyur perangkat lunak Adobe memilih banting setir menjadi sopir bus sekolah.

Pria bernama James Strawn tersebut sebelumnya bekerja sebagai Senior Software Quality Engineer di Adobe Digital Video. Ia terkena PHK pada Agustus 2025 setelah sekitar 25 tahun berkarier di industri teknologi, termasuk di Accolade dan Adobe.

Setelah kehilangan pekerjaan, Strawn berupaya kembali ke industri teknologi. Namun, lebih dari setahun mencari pekerjaan baru ternyata tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Kondisi tersebut bahkan membuatnya merasa terpuruk dan kecewa terhadap proses perekrutan di industri teknologi.

Pada pertengahan Agustus 2026, Strawn akhirnya memutuskan memulai babak baru dalam kehidupannya. Ia menerima pekerjaan sebagai sopir bus sekolah di distrik sekolah tempat tinggalnya di Colorado, Amerika Serikat.

Meski pekerjaan tersebut berada jauh dari bidang keahliannya sebagai engineer, Strawn mengaku menikmati kehidupan barunya.

“Setelah lebih dari setahun mencari pekerjaan yang sulit, merasa terpuruk dan didiskriminasi oleh industri teknologi, saya menginformasikan bahwa kali ini babak baru saya telah dimulai,” tulis Strawn melalui unggahan di akun LinkedIn pribadinya.

Strawn mengakui penghasilannya sebagai sopir bus sekolah jauh lebih rendah dibandingkan ketika bekerja di industri teknologi. Namun, ia menyebut pekerjaan barunya memberikan pengalaman yang menyenangkan.

“Gajinya jauh lebih rendah dari pekerjaan sebelumnya, tetapi menyenangkan, anak-anaknya kebanyakan baik, dan rekan kerja saya peduli, baik, dan sangat rendah hati,” tulisnya.

Kritik terhadap Sistem Perekrutan Industri Teknologi

Dalam unggahan tersebut, Strawn juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap proses perekrutan di industri teknologi setelah dirinya terkena PHK.

Ia mengaku menghadapi berbagai kendala ketika melamar pekerjaan. Sejumlah perusahaan dan perekrut disebut menggunakan sistem penyaringan lamaran secara otomatis. Bahkan, pertanyaan yang dikirimkannya secara langsung tidak mendapatkan respons.

Strawn juga menyebut pernah menghadapi situasi ketika pihak perusahaan atau perekrut tidak hadir dalam jadwal wawancara yang telah ditentukan.

“Saya berharap industri ini bisa menemukan jalannya kembali untuk memperlakukan orang dengan lebih baik,” ujarnya.

Unggahan Strawn kemudian mendapat banyak tanggapan dari pengguna LinkedIn. Sejumlah pekerja dan profesional turut menyoroti persoalan PHK massal di industri teknologi serta tantangan yang dihadapi pekerja berpengalaman ketika mencoba kembali memasuki pasar kerja.

Tetap Menghargai Perjalanan Karier

Di tengah pengalaman pahit tersebut, Strawn tetap menyampaikan apresiasi kepada mantan rekan kerja dan koneksi profesional yang memberikan dukungan selama dirinya mencari pekerjaan.

Ia mengaku dukungan tersebut membantunya tetap menghargai perjalanan karier panjang yang telah dijalaninya selama bekerja di Accolade dan Adobe.

“Kepada semua mantan rekan kerja dan koneksi LinkedIn yang menghubungi saya untuk memberikan semangat dan dukungan, saya berterima kasih sedalam-dalamnya,” ungkap Strawn.

Namun, ia juga mengkritik sejumlah pihak di perusahaan sebelumnya yang menurutnya turut berperan dalam berakhirnya perjalanan kariernya di industri teknologi.

Strawn mengaku merasa pernah dilewati, dijatuhkan, hingga akhirnya terkena PHK. Kendati demikian, ia memilih melihat pengalaman tersebut dari perspektif berbeda.

Menurutnya, keputusan perusahaan untuk memberhentikannya justru menjadi pintu menuju fase kehidupan yang baru.

Kini, setelah meninggalkan dunia teknologi untuk sementara, Strawn memilih menjalani pekerjaan sebagai sopir bus sekolah. Meskipun pendapatannya lebih rendah, ia menemukan lingkungan kerja dan pengalaman baru yang membuatnya tetap merasa bersyukur.

Di akhir unggahannya, Strawn mengajak orang-orang yang selama ini mendukungnya untuk ikut merayakan langkah barunya.

“Mari bersulang untuk awal yang baru,” pungkas Strawn, sebagaimana dihimpun dari unggahan LinkedIn pribadinya, Minggu (23/8/2026).

(Sumber : kompas.com)

Exit mobile version