LG Energy Solution Alihkan Produksi Baterai EV ke ESS di Amerika Utara - lemspsi.com
Internasional

LG Energy Solution Alihkan Produksi Baterai EV ke ESS di Amerika Utara

83

LG Energy Solution Shifts EV Battery Production to ESS in North America

Produsen baterai LG Energy Solution- CNN indonesia

JAKARTA – Produsen baterai asal Korea Selatan, LG Energy Solution, mulai secara bertahap mengalihkan produksi sel baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di sejumlah pabriknya di Amerika Utara untuk memproduksi baterai penyimpan energi atau energy storage system (ESS).

Presiden LG Energy Solution wilayah Amerika Utara, Robert Lee, mengatakan keputusan tersebut diambil seiring melonjaknya permintaan baterai berukuran besar untuk sistem penyimpanan energi. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh masifnya pembangunan pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) yang membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar.

Langkah tersebut menjadi bagian dari penyesuaian strategi industri baterai dan otomotif setelah produsen sebelumnya menggelontorkan investasi puluhan miliar dolar untuk membangun fasilitas produksi demi mengantisipasi ledakan pasar kendaraan listrik yang ternyata belum berkembang sesuai perkiraan.

LG Energy Solution, yang disebut sebagai salah satu produsen baterai terbesar di Amerika Utara berdasarkan jumlah sel yang diproduksi, menargetkan lima dari delapan pabriknya di kawasan tersebut dapat memproduksi baterai ESS paling lambat akhir tahun ini.

Dalam peresmian fasilitas LG Energy Solution di Lansing, Michigan, pada Selasa (18/8), Robert Lee mengatakan perusahaan melihat peluang besar pada sektor ESS karena pertumbuhannya berlangsung jauh lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.

Pabrik Lansing saat ini memproduksi sel baterai untuk Tesla, yang menjadi salah satu pemain utama di pasar ESS. Fasilitas tersebut juga memasok baterai untuk kendaraan listrik Toyota Motor Corp.

Namun, peralihan dari baterai EV ke ESS bukan proses sederhana. LG Energy Solution perlu mengembangkan formula kimia baru yang sebelumnya belum menjadi fokus utama perusahaan, yakni lithium iron phosphate (LFP). Teknologi tersebut selama ini banyak dikuasai produsen baterai asal China.

Baterai LFP memang dapat digunakan pada kendaraan listrik, tetapi memiliki kepadatan energi lebih rendah dibandingkan baterai berbasis nikel yang selama ini menjadi salah satu keunggulan LG Energy Solution. Konsekuensinya, baterai LFP umumnya menawarkan jarak tempuh kendaraan yang lebih pendek.

Di sisi lain, baterai LFP memiliki tingkat keamanan dan ketahanan yang lebih baik sehingga dinilai cocok untuk penyimpanan energi dalam skala besar, termasuk untuk menampung listrik dari pembangkit energi sebelum digunakan ketika kebutuhan meningkat.

Peralihan produksi menuju ESS dinilai menjadi salah satu solusi bagi industri otomotif dan manufaktur baterai yang telah terlanjur membangun kapasitas produksi besar untuk kendaraan listrik. Meski demikian, permintaan ESS diperkirakan belum sepenuhnya mampu menyerap seluruh kelebihan kapasitas pabrik yang tersedia.

Konsultan Benchmark Mineral Intelligence memperkirakan permintaan baterai stasioner di Amerika Utara mencapai sekitar 76 gigawatt-jam (GWh) pada tahun ini. Angka tersebut diproyeksikan meningkat hampir dua kali lipat menjadi 125 GWh dalam lima tahun mendatang.

Kendati pertumbuhan ESS cukup pesat, Benchmark memperkirakan permintaan tersebut masih belum cukup untuk menyerap seluruh kapasitas produksi baterai yang telah dibangun untuk memenuhi proyeksi pertumbuhan kendaraan listrik.

LG Energy Solution sendiri tidak sepenuhnya meninggalkan pasar baterai EV. Perusahaan tetap mempertahankan produksi baterai kendaraan listrik berbasis nikel.

Pabrik hasil kerja sama LG Energy Solution dengan General Motors di timur laut Ohio bahkan kembali mengaktifkan produksi sel baterai untuk kendaraan listrik GM pada pekan ini setelah sempat menghentikan operasional selama tujuh bulan.

Robert Lee menilai perlambatan pasar kendaraan listrik saat ini bukan berarti prospek EV telah berakhir. Menurutnya, kendaraan listrik pada akhirnya akan kembali tumbuh dan menjadi bagian dominan dari pasar otomotif Amerika Serikat.

“Kendaraan listrik akan kembali bangkit dan pada akhirnya akan mendominasi mayoritas kendaraan di Amerika Serikat. Ini semua benar-benar hanya soal waktu,” kata Lee, seperti dilansir Reuters, Kamis (20/8).

(Sumber : CNN indonesia)

Exit mobile version