BONDOWOSO — Dulu, Feri Efendi hanyalah seorang buruh tani di Desa Sumbergading, Kecamatan Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso. Setiap hari, ia mengangkut hasil panen dari sawah ke atas pikap—mulai dari jerami, jagung, hingga sayuran—dengan upah rata-rata Rp50 ribu per hari.
Kini, kehidupan Feri berubah drastis. Pria yang akrab disapa Pak Ayu ini telah mengandangkan keberhasilan dengan memiliki 16 ekor sapi. Sebanyak 14 ekor di antaranya bahkan ia gaduhkan kepada tujuh peternak lain yang tersebar hingga ke Kecamatan Sempol (Bondowoso) dan Kayumas (Situbondo).
Transformasi luar biasa ini tidak terjadi dalam semalam. Feri membangun aset ternaknya secara bertahap sejak mengenal pola Manajemen Ternak Pedet Cepat jadi Induk (MAT PECI) pada 2016. Inovasi ini diinisiasi oleh Indra Wijaya, seorang petugas inseminator wilayah Kecamatan Sumberwringin.
Dari Pemelihara Biasa Menjadi Investor Ternak
Kisah Feri bermula sekitar tahun 2010. Kala itu, di sela-sela pekerjaannya sebagai buruh panen, ia menjadi penggaduh satu ekor sapi milik temannya. Ketika pedet (anak sapi) dijual, ia berhasil mengantongi uang Rp15 juta.
Namun karena belum paham pengelolaan aset, uang tersebut habis untuk kebutuhan sehari-hari dan rekreasi keluarga. Feri pun harus kembali ke titik nol.
“Saya waktu itu kaget langsung dapat uang Rp15 juta. Uangnya saya belanjakan untuk kebutuhan keluarga, ngajak jalan anak-anak dan akhirnya habis,” ujar Feri, Minggu (9/8/2026).
Titik balik terjadi saat Feri bertemu Indra Wijaya. Lewat skema MAT PECI, Feri diajarkan untuk tidak menjual habis pedet yang lahir untuk konsumsi, melainkan memutarnya kembali sebagai modal membeli indukan yang siap kawin.
Strategi tersebut terbukti ampuh. Pada 2020, Feri sudah mampu membangun rumah dan membeli sepeda motor dari hasil penjualan beberapa ekor sapi. Kerja kerasnya berlanjut hingga tahun ini, di mana ia memiliki 16 ekor sapi dan menjadi pemodal bagi peternak penggaduh lainnya.
“Perbandingan dengan pertanian menang dua kali lipat,” ungkap Feri saat membandingkan simulasi investasi modal Rp50 juta di sektor pertanian versus beternak sapi skema MAT PECI.
Mengenal Inovasi MAT PECI
Inovator MAT PECI, Indra Wijaya, menjelaskan bahwa metode ini dirancang untuk memangkas siklus panjang pola konvensional. Pada pola konvensional, peternak harus menunggu hingga dua tahun hanya agar pedet siap kawin.
Melalui MAT PECI, setiap pedet yang lahir—baik jantan maupun betina—langsung dijual untuk dibelikan indukan yang siap reproduksi.
“Ketika punya induk beranak, anaknya dijual dan dibelikan indukan yang siap kawin. Sehingga produksi anaknya jauh lebih cepat,” jelas Indra.
Dalam simulasi hitungan lima tahun, satu indukan dengan pola konvensional hanya berkembang menjadi sekitar 9 ekor (nilai aset ±Rp123 juta). Namun dengan MAT PECI, satu indukan dapat beranak-pinak menjadi 32 ekor indukan dengan taksiran nilai aset mencapai Rp418 juta—meningkat hingga 3,5 kali lipat atau 350 persen.
Disnakan Bondowoso Siapkan Replikasi untuk Pulihkan Populasi Sapi
Melihat keberhasilan skema ini, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kabupaten Bondowoso, Hendri Widotono, menegaskan komitmennya untuk mereplikasi MAT PECI ke seluruh wilayah Bondowoso.
Langkah ini juga menjadi strategi prioritas Disnakan untuk memulihkan populasi sapi Bondowoso yang sempat merosot dari 240 ribu ekor menjadi sekitar 141 ribu ekor akibat wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
“MAT PECI itu inovasinya diciptakan Mas Indra. Itu sudah berhasil, hanya saja masih terbatas cakupannya di wilayah Puskeswan Pujer. Ke depan, kami siapkan replikasi ke Puskeswan lain hingga targetnya mencakup 219 desa,” kata Hendri.
Guna memuluskan rencana tersebut, Disnakan akan menggelar Sekolah Lapang dengan melibatkan peternak yang telah berhasil seperti Feri sebagai pengajar praktis.
“Dari penggaduh, akhirnya menggaduhkan. Dari pekerja, sekarang menjadi orang yang mempekerjakan. Jika MAT PECI dapat direplikasi secara luas, inovasi dari Bondowoso ini siap mendukung swasembada pangan Indonesia,” pungkas Hendri.
