Investasi Indonesia Tetap Tumbuh, Danantara Didorong Perluas Dampak ke Industri dan Tenaga Kerja - lemspsi.com
Nasional

Investasi Indonesia Tetap Tumbuh, Danantara Didorong Perluas Dampak ke Industri dan Tenaga Kerja

77

Indonesia’s Investment Continues to Grow, Danantara Urged to Expand Impact on Industry and Employment

DANANTARA

JAKARTA – Investasi Indonesia dinilai tetap menunjukkan pertumbuhan di tengah perlambatan ekonomi global. Kondisi tersebut menjadi peluang untuk memperkuat peran Danantara Indonesia agar investasi yang masuk tidak hanya menghasilkan keuntungan finansial, tetapi juga meningkatkan kapasitas industri, membuka lapangan kerja, dan memberikan dampak ekonomi yang terukur.

Dalam Pidato Kenegaraan pekan lalu, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan realisasi investasi Indonesia mencapai Rp1.931 triliun sepanjang 2025. Sementara itu, realisasi investasi pada semester I 2026 telah mencapai Rp1.010 triliun.

Capaian tersebut berlangsung di tengah proyeksi perlambatan ekonomi dunia. Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi global berada di kisaran 3 persen pada 2026.

Presiden Prabowo juga menyampaikan harapan agar Danantara Indonesia dapat berperan dalam restrukturisasi dan konsolidasi BUMN sekaligus mendukung penguatan investasi nasional secara bertahap dan terukur.

Peran tersebut antara lain terlihat dari 19 proyek hilirisasi yang telah melakukan groundbreaking serta pengembangan proyek strategis nasional pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL).

Pengamat ekonomi Universitas Negeri Padang (UNP) Doni Satria menilai Danantara memiliki posisi strategis untuk memperkuat aktivitas ekonomi nasional. Namun, investasi yang dikelola harus diarahkan pada proyek yang memiliki kelayakan usaha, tata kelola yang baik, serta memiliki keterkaitan dengan kebutuhan pembangunan.

“Danantara bisa mendorong aktivitas ekonomi yang lebih baik di Indonesia, termasuk pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja, sejauh investasinya tepat sasaran dan dikelola secara hati-hati,” kata Doni.

Menurutnya, investasi yang dikelola Danantara harus mempertimbangkan efisiensi dan tingkat pengembalian sekaligus kesesuaiannya dengan arah pembangunan ekonomi nasional.

Doni menyebut hilirisasi sumber daya alam dapat menjadi salah satu pilihan karena memiliki skala dan prospek pengembalian yang besar. Namun, pengembangan hilirisasi harus diikuti dengan penguatan industri pendukung agar manfaat investasi dapat dirasakan lebih luas oleh pelaku usaha dalam negeri.

“Kalau ada investasi besar, strateginya adalah investasi besar yang juga mendorong industri kecil,” ujarnya.

Danantara Diharapkan Jadi Anchor Investor

Dari perspektif dunia usaha, Wakil Ketua Komite Tetap Perencanaan Pengembangan Energi Terbarukan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Feiral Rizky Batubara menilai Danantara dapat mengambil peran sebagai anchor investor untuk membuka peluang kolaborasi jangka panjang.

Menurut Feiral, besarnya nilai investasi bukan satu-satunya indikator keberhasilan. Investasi juga harus memberikan ruang bagi perusahaan nasional untuk terlibat melalui joint venture, co-investment, penyediaan barang dan jasa, hingga penguatan rantai pasok domestik.

Kadin menilai keberhasilan investasi Danantara idealnya diukur dari financial return sekaligus kemampuan memperkuat kapasitas, skala usaha, dan daya saing perusahaan Indonesia.

Karena itu, investasi berskala besar perlu memiliki keterkaitan dengan industri domestik sehingga menciptakan efek berganda bagi pemasok lokal, UMKM, tenaga kerja, dan industri pendukung.

Keterlibatan industri nasional juga perlu diperhitungkan sejak awal melalui pemetaan rantai pasok serta kebutuhan industri pendukung.

“Dengan pendekatan tersebut, Danantara dapat menjadi penghubung antara modal besar dan kapasitas industri nasional. Jadi, investasi tidak hanya menghasilkan aset dan keuntungan, tetapi juga ikut menciptakan ekosistem ekonomi baru serta memperkuat fondasi industri Indonesia dalam jangka panjang,” kata Feiral.

19 Proyek Hilirisasi

Danantara saat ini mulai menjalankan agenda hilirisasi melalui 19 proyek yang telah melakukan groundbreaking. Proyek-proyek tersebut mencakup sektor mineral, energi, hingga agrikultur dengan nilai investasi sekitar Rp225 triliun.

Selain hilirisasi, Danantara juga mengembangkan sektor energi bersih melalui proyek percontohan PSEL di Denpasar, Bali.

Proyek dengan nilai investasi Rp3 triliun tersebut ditargetkan mampu mengolah sekitar 1.500 ton sampah per hari dan mulai beroperasi pada semester I 2028.

Pengembangan PSEL tersebut menjadi bagian dari target nasional pembangunan 33 PLTSa hingga 2029.

Di sisi lain, pertumbuhan investasi juga tercermin dalam data ekonomi nasional. Investasi tumbuh 6,87 persen pada kuartal II 2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang berada di level 5,06 persen.

Sektor hilirisasi juga mencatat pertumbuhan 6,9 persen. Sementara realisasi investasi semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun dengan penyerapan 1,45 juta tenaga kerja langsung, atau meningkat sekitar 15 persen.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Rosan Roeslani mengatakan investasi merupakan salah satu penopang perekonomian nasional. Namun, menurutnya, ukuran keberhasilan investasi tidak semata-mata dilihat dari besarnya angka investasi.

Rosan menekankan investasi harus memberikan manfaat nyata terhadap kesejahteraan masyarakat, terutama melalui penciptaan lapangan kerja berkualitas dan peningkatan kualitas hidup.

“Seperti yang Pak Presiden sampaikan bahwa angka-angka pertumbuhan ekonomi dan investasi bukanlah tujuan akhir, tapi bagaimana kita bisa menciptakan kesejahteraan masyarakat. Setiap rupiah investasi harus menciptakan lapangan pekerjaan yang baik, yang berkualitas, sekaligus juga memperbaiki kualitas hidup dari masyarakat kita,” ujar Rosan.

Exit mobile version