JAKARTA – Industri semen nasional masih menghadapi berbagai tantangan struktural yang membayangi prospek kinerja pada semester II 2026. Meski penjualan semen mulai menunjukkan pertumbuhan dua digit pada paruh pertama tahun ini, kondisi tersebut dinilai belum mampu memperbaiki fundamental industri yang masih dibebani kelebihan kapasitas produksi (oversupply), persaingan harga yang semakin ketat, serta tingginya biaya energi.
Ketua Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (ASPERSSI), Lilik Unggul Raharjo, mengatakan persoalan terbesar yang dihadapi industri semen saat ini adalah kapasitas produksi yang jauh melampaui kebutuhan pasar domestik. Ketimpangan tersebut membuat tingkat utilisasi pabrik tetap rendah meskipun permintaan mulai mengalami perbaikan.
Menurut Lilik, kapasitas produksi semen nasional saat ini telah mencapai sekitar 120 juta ton per tahun. Namun, tingkat utilisasi industri sepanjang 2025 diperkirakan hanya berada di kisaran 54 persen. Pada 2026, utilisasi memang diproyeksikan meningkat seiring pertumbuhan permintaan, tetapi kenaikannya diperkirakan hanya mencapai sekitar 56 persen.
“Artinya, kesenjangan antara kapasitas produksi dan permintaan nasional masih cukup besar,” ujar Lilik kepada media, Selasa (21/7/2026).
Ia menjelaskan bahwa kondisi kelebihan kapasitas tersebut memicu persaingan yang sangat ketat di antara produsen semen. Perusahaan berlomba mempertahankan pangsa pasar melalui strategi harga yang agresif, sehingga menekan margin keuntungan di tengah kenaikan biaya operasional, terutama biaya energi yang masih tinggi.
Di sisi lain, pertumbuhan permintaan semen yang mulai membaik dinilai menjadi sinyal positif bagi industri. Namun, peningkatan tersebut belum cukup untuk mengangkat tingkat utilisasi pabrik ke level yang lebih sehat maupun mengatasi persoalan struktural yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir.
Pelaku industri berharap pertumbuhan proyek infrastruktur pemerintah, pembangunan sektor properti, serta meningkatnya investasi dapat mendorong konsumsi semen secara lebih signifikan dalam beberapa tahun mendatang. Dengan demikian, kesenjangan antara kapasitas produksi dan permintaan pasar dapat berangsur menyempit.
Meski demikian, tanpa adanya peningkatan permintaan yang lebih kuat atau penyesuaian kapasitas produksi, industri semen nasional diperkirakan masih akan menghadapi tekanan sepanjang semester II 2026. Kondisi oversupply yang berkepanjangan dinilai akan terus menjadi tantangan utama yang memengaruhi kinerja dan profitabilitas para produsen semen di Indonesia.
(Sumber: Bisnis.com)
