GAPKI Dorong Riset Sawit Berorientasi Solusi Industri, Perkuat Sinergi Beasiswa dan Inovasi - lemspsi.com
EkonomiNasional

GAPKI Dorong Riset Sawit Berorientasi Solusi Industri, Perkuat Sinergi Beasiswa dan Inovasi

186

GAPKI Pushes Industry-Driven Palm Oil Research, Strengthens Scholarship and Innovation Collaboration

Penandatanganan Nota Kesepahaman oleh Plt Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian- AntaraNews.com

JAKARTA – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menegaskan pentingnya pengembangan riset yang mampu menjawab kebutuhan nyata industri kelapa sawit, bukan sekadar menghasilkan publikasi akademik. Penelitian yang berorientasi pada solusi dinilai menjadi kunci dalam memperkuat daya saing industri sawit nasional sekaligus mendukung pengembangan sektor yang berkelanjutan.

Komitmen tersebut ditegaskan melalui penandatanganan Komitmen Bersama antara Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), dan GAPKI dalam mendukung Program Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Perkebunan melalui Kegiatan Beasiswa Kelapa Sawit. Penandatanganan berlangsung dalam rangkaian Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026 yang digelar BPDP di Jakarta pada 20–21 Juli 2026.

Kolaborasi ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan pelaku industri dalam mencetak SDM perkebunan yang unggul sekaligus mendorong lahirnya penelitian yang mampu menjawab berbagai tantangan di sektor kelapa sawit.

Melalui komitmen tersebut, ketiga pihak akan bekerja sama dalam pelaksanaan program beasiswa melalui sosialisasi, penyebarluasan informasi, fasilitasi calon penerima beasiswa, hingga memperkuat keterkaitan antara dunia pendidikan dengan kebutuhan industri.

Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, menegaskan bahwa penelitian di sektor kelapa sawit harus mampu menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan secara langsung di lapangan.

“Industri kelapa sawit membutuhkan riset yang mampu memberikan solusi nyata terhadap berbagai tantangan yang dihadapi,” ujar Eddy di sela-sela kegiatan PERISAI 2026.

Salah satu persoalan yang menurutnya membutuhkan perhatian serius adalah serangan jamur Ganoderma, yang menyebabkan tanaman kelapa sawit mati dan kini mulai ditemukan bahkan pada tanaman hasil peremajaan generasi awal.

Menurut Eddy, permasalahan tersebut menjadi contoh nyata mengapa riset terapan sangat dibutuhkan. Industri memerlukan teknologi yang mampu mendeteksi serangan Ganoderma sejak dini sekaligus menemukan metode pengendalian yang efektif agar produktivitas perkebunan tetap terjaga.

“Ganoderma menjadi contoh mengapa riset terapan sangat dibutuhkan. Kita memerlukan teknologi yang tidak hanya mampu mendeteksi lebih dini, tetapi juga menemukan cara pengendaliannya. Persoalan seperti ini sangat dirasakan perusahaan maupun petani sawit,” jelasnya.

Ia juga mendorong perguruan tinggi agar semakin memahami kebutuhan industri ketika menentukan tema penelitian. Dengan demikian, hasil penelitian mahasiswa maupun akademisi tidak berhenti sebagai karya ilmiah, tetapi dapat diimplementasikan untuk mendukung pengembangan industri sawit nasional.

“Mahasiswa dan peneliti perlu melihat kebutuhan industri terlebih dahulu. Kalau memahami persoalan yang dihadapi di lapangan, maka riset yang dihasilkan akan lebih tepat sasaran dan memberikan manfaat yang nyata,” tambahnya.

Berdasarkan data BPDP, sejak Program Grant Riset Sawit dimulai pada 2015, lembaga tersebut telah mendukung 466 kontrak penelitian yang melibatkan 109 lembaga penelitian, 1.873 peneliti, dan 383 mahasiswa. Program tersebut menghasilkan 395 publikasi ilmiah serta 84 paten.

Pada 2026, BPDP kembali menandatangani 56 kontrak riset baru, termasuk penelitian mengenai pengembangan kelapa nasional dan kesiapan implementasi biodiesel B50. Cakupan riset meliputi budidaya, bioenergi, oleokimia, biomaterial, lingkungan, sosial ekonomi, hingga teknologi informasi.

Di bidang pengembangan SDM, BPDP telah bermitra dengan 44 perguruan tinggi, memberikan beasiswa kepada 13.265 mahasiswa, serta melatih lebih dari 30 ribu petani dan pekebun guna mempercepat adopsi inovasi di sektor perkebunan.

Selain itu, lebih dari 100 hasil riset BPDP telah memasuki tahap komersialisasi, mulai dari penandatanganan Letter of Intent (LoI) dengan pelaku industri hingga melahirkan startup berbasis hasil penelitian.

Dalam Nota Kesepahaman tersebut, GAPKI berperan memfasilitasi perguruan tinggi dan mahasiswa melalui perusahaan-perusahaan anggota GAPKI sebagai tempat magang, penyusunan kurikulum, hingga pelaksanaan praktik kerja lapangan (PKL). Langkah ini diharapkan mampu memperkuat hubungan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri.

Mengusung tema “Shaping the Palm Oil Industry Ecosystems for a Sustainable Future”, PERISAI 2026 menjadi wadah diseminasi hasil penelitian, pertukaran pengetahuan, serta penguatan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, peneliti, dan pelaku industri. Melalui sinergi tersebut, diharapkan semakin banyak inovasi yang dapat diimplementasikan untuk mendukung industri kelapa sawit Indonesia yang berdaya saing tinggi dan berkelanjutan. (Sumber : AntaraNews.com)

Exit mobile version