Diduga Kerap Berkata Kasar dan Gunakan Kaki Saat Memberi Perintah, 3.400 Buruh PT Sun Suka Abadi Sukabumi Mogok Kerja Tuntut Kepala Produksi Mundur - lemspsi.com
Daerah

Diduga Kerap Berkata Kasar dan Gunakan Kaki Saat Memberi Perintah, 3.400 Buruh PT Sun Suka Abadi Sukabumi Mogok Kerja Tuntut Kepala Produksi Mundur

165

Accused of Using Profanity and Giving Orders with His Feet, 3,400 Workers at PT Sun Suka Abadi Sukabumi Strike to Demand Production Head's Ouster

Ribuan buruh PT Sun Suka Abadi di Jalan Raya Cidahu KM 3, Desa Pondokaso Tonggoh, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi- Sukabumiupdate

SUKABUMI — Aktivitas produksi di pabrik garmen PT Sun Suka Abadi yang berlokasi di Jalan Raya Cidahu KM 3, Desa Pondokaso Tonggoh, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, mendadak lumpuh total pada Senin (27/7/2026). Sekitar 3.400 karyawan menggelar aksi mogok kerja massal demi menyuarakan satu tuntutan tunggal: mendesak manajemen mencopot Kepala Produksi mereka, Mr. Park, yang merupakan warga negara Korea Selatan.

Sekretaris Serikat Pekerja Tingkat Perusahaan (SPTP) PT Sun Suka Abadi, Triyono, menegaskan bahwa aksi ini merupakan puncak kejengkolan para buruh atas sikap kepemimpinan Mr. Park yang dinilai melampaui batas etika dan kurang menghormati pekerja lokal.

Dinilai Tak Beretika dan Sering Mengumpat

Triyono menjelaskan, ketegangan di lingkungan kerja terus meningkat dalam satu bulan terakhir, meski Mr. Park sendiri baru menjabat sekitar enam bulan. Sikap pimpinan produksi tersebut dianggap sering memicu ketidaknyamanan, terutama terkait caranya berkomunikasi dan memberikan perintah kepada bawahan.

“Contohnya kalau nyuruh itu pakai kaki,” kata Triyono saat memberikan keterangan kepada media.

Tak hanya sikap tubuh yang dinilai melecehkan, Mr. Park juga kerap melontarkan kata umpatan dalam bahasa Korea, yaitu “saekkiya” (새끼야), yang secara umum bermakna “bajingan” atau “keparat”. Ucapan berulang tersebut dinilai sangat merendahkan martabat para buruh Indonesia di area pabrik.

Dugaan Kontak Fisik hingga Janji Manajemen yang Diabaikan

Selain tindak verbal dan sikap arogan, Triyono juga menyinggung dugaan tindakan fisik yang dilakukan Mr. Park terhadap seorang pekerja laki-laki pada 6 Juni 2026 lalu. Peristiwa yang berawal dari adu argumen terkait pekerjaan tersebut berlanjut pada aksi Mr. Park yang menepuk kepala karyawan bersangkutan. Serikat pekerja sempat berusaha menelusuri insiden tersebut melalui rekaman CCTV, namun lokasi kejadian berada di area blind spot kamera pengawas.

Aksi mogok kerja pada hari ini sebenarnya merupakan pilihan terakhir. Serikat pekerja mengklaim telah melayangkan keberatan resmi kepada manajemen sejak Juni 2026. Kala itu, pihak manajemen meminta tenggat waktu hingga 15 Juli 2026 untuk menyelesaikan masalah internal tersebut.

“Manajemen minta waktu sampai tanggal 15 Juli. Tapi sampai waktu itu tidak ada perubahan, makanya hari ini kami melaksanakan aksi,” ujar Triyono.

Produksi Lumpuh Total

Akibat mogok kerja yang melibatkan ribuan buruh ini, seluruh aktivitas pembuatan pakaian di PT Sun Suka Abadi terhenti sepenuhnya. Para pekerja berkomitmen untuk tidak melanjutkan pekerjaan sampai manajemen menerbitkan keputusan resmi terkait pencopotan Mr. Park.

Triyono menegaskan tidak ada tuntutan materi atau perbaikan fasilitas dalam aksi kali ini. Fokus utama buruh adalah pembenahan etika kepemimpinan di tempat kerja. Siapa pun pengganti yang ditunjuk perusahaan nantinya, pekerja berharap sosok tersebut dapat memahami dan menghormati budaya kerja di Indonesia.

“Siapa pun penggantinya, kita utamakan adab. Karena adab lebih tinggi daripada ilmu,” pungkasnya.

(Sumber : sukabumiupdate.com)

Exit mobile version