Dari PHK hingga Jadi Makeup Artist, Kisah Amsiyah Bangkit Lewat Keterampilan Makeup - lemspsi.com
Daerah

Dari PHK hingga Jadi Makeup Artist, Kisah Amsiyah Bangkit Lewat Keterampilan Makeup

83

From Layoff to Makeup Artist: Amsiyah’s Journey to Rebuilding Her Career Through Makeup Skills

Trainer L Oréal Indonesia Beauty For a Better Life (BFBL) Training Center Tangerang, Amsiyah.(KOMPAS.com-Qonita)

TANGERANG, BANTEN – Kehilangan pekerjaan tidak membuat Amsiyah menyerah. Perempuan yang akrab disapa Teh Aam itu justru memanfaatkan masa sulit setelah terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) untuk mempelajari keterampilan baru hingga akhirnya membangun usaha sebagai makeup artist (MUA).

Amsiyah sebelumnya bekerja sebagai buruh pabrik selama sekitar 10 tahun. Namun, pandemi Covid-19 mengubah kehidupannya. Ia dan suaminya sama-sama kehilangan pekerjaan, sementara anak mereka saat itu masih berusia sekitar 14 bulan.

“Saya waktu itu kena PHK, suami juga kena PHK. Anak saya masih kecil, sekitar 14 bulan. Jadi saya sempat jualan karena waktu itu tidak ada pemasukan,” ujar Aam saat ditemui dalam Media Visit ke BFBL Tangerang Training Center L’Oréal Indonesia di Kabupaten Tangerang, Selasa (22/9/2026).

Di tengah kondisi tersebut, Aam mendapat informasi mengenai program Beauty For a Better Life (BFBL) yang memberikan pelatihan kecantikan secara gratis. Ia kemudian tertarik mengikuti pelatihan karena ingin mempelajari makeup dan menekuni profesi MUA.

Menurut Aam, mengikuti kursus makeup berbayar saat itu cukup sulit karena membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kesempatan mengikuti BFBL pun menjadi jalan baginya untuk memperoleh keterampilan baru tanpa harus mengeluarkan biaya pelatihan.

Belajar Makeup Sambil Tinggalkan Anak

Aam mengikuti pelatihan BFBL di Tangerang pada 2021. Selama mengikuti pelatihan sekitar dua bulan, ia harus menggunakan ojek untuk menuju lokasi karena belum memiliki kendaraan sendiri.

Pada saat itu, anak Aam masih berusia sekitar 20 bulan dan masih menyusu. Meski harus meninggalkan anaknya untuk sementara waktu, ia tetap menjalani pelatihan hingga selesai.

Tidak hanya mengandalkan materi dari pelatihan, Aam juga rutin berlatih di rumah. Salah satu teknik yang paling sering diasahnya adalah membuat alis.

“Saya setiap minggu latihan di rumah. Yang paling sering saya latihan itu alis, karena saya ingin bisa dan memang harus bisa,” tuturnya.

Ketekunannya berlatih bahkan membuat Aam memperoleh pesanan makeup untuk pengantin sebelum menyelesaikan pelatihan.

Manfaatkan DP Pengantin untuk Beli Peralatan

Namun, mendapatkan pekerjaan pertama bukan berarti Aam sudah memiliki seluruh perlengkapan yang dibutuhkan sebagai MUA.

Selama mengikuti pelatihan, ia mendapat pinjaman peralatan dari L’Oréal Indonesia. Ketika mulai menerima pekerjaan di luar tempat pelatihan, Aam harus menyediakan peralatan makeup sendiri.

Keterbatasan modal membuatnya mencari cara agar tetap bisa menjalankan pekerjaan. Saat mendapatkan pesanan pengantin pertama, ia menggunakan uang muka atau down payment (DP) dari klien untuk membeli perlengkapan makeup.

“Pas dapat job pengantin pertama, saya belum punya alat. Jadi DP dari pengantin itu saya pakai untuk beli alat makeup,” kata Aam.

Perjalanan awal sebagai MUA pun tidak selalu menghasilkan keuntungan besar. Setelah menyelesaikan salah satu pekerjaannya, uang yang tersisa di tangannya hanya sekitar Rp200.000.

“Selesai job itu uang saya tinggal Rp200.000. Saya sempat berpikir, ‘Apa sudah, enggak usah dilanjutkan saja ya?’,” ungkapnya.

Keraguan tersebut ternyata tidak berlangsung lama. Setelah itu, tujuh calon pengantin memesan jasanya untuk bulan berikutnya.

Pendapatan dari pekerjaan tersebut kemudian ia gunakan untuk membeli perlengkapan usaha sekaligus mengembangkan bisnis di bidang makeup dan pernikahan.

Setahun Kemudian Bangun Salon

Sekitar satu tahun setelah mulai menekuni profesi MUA, Aam berhasil memiliki salon dan galeri busana pengantin sendiri.

Usahanya juga tidak hanya memberikan manfaat bagi dirinya. Teman-teman sesama alumni BFBL dapat menyewa busana atau terlibat dalam berbagai pekerjaan yang berkaitan dengan makeup dan pernikahan.

Perjalanan dari buruh pabrik, korban PHK, hingga menjadi pemilik usaha kemudian membawa Aam ke tahap berikutnya. Kini, ia juga menjadi trainer BFBL dan membagikan keterampilan makeup kepada peserta pelatihan lainnya.

Aam merupakan alumni BFBL angkatan ke-10 pada 2021. Dari yang semula datang sebagai peserta, kini ia kembali ke tempat tersebut sebagai pelatih.

Ia berpesan kepada orang-orang yang ingin memulai usaha tetapi terkendala modal agar tidak menjadikan keterbatasan tersebut sebagai alasan untuk berhenti belajar.

“Kalau belum punya modal, jangan menyerah. Yang penting skill makeup-nya dulu diperbaiki. Nanti kalau sudah punya skill, Insya Allah ada saja kesempatan dan rezekinya,” pesan Aam.

Program BFBL sendiri telah berjalan selama 12 tahun dan disebut telah menjangkau sekitar 7.000 perempuan di Indonesia melalui pelatihan kecantikan profesional secara gratis.

Sementara di BFBL Training Center Tangerang, sekitar 1.000 peserta telah terdaftar. Sekitar 65 persen di antaranya disebut telah bekerja dengan memanfaatkan keterampilan kecantikan yang mereka pelajari.

Kisah Aam menunjukkan bahwa PHK tidak selalu menjadi akhir perjalanan kerja. Dengan keterampilan baru, latihan yang konsisten, dan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan, pengalaman kehilangan pekerjaan dapat menjadi titik awal untuk membangun sumber penghasilan baru.  (Sumber : kompas.com)

Exit mobile version