Tiga Puluh Tahun Menantang Kerasnya Jakarta: Kisah Anto, Buruh Panggul Kayu dari Pekalongan - lemspsi.com
Nasional

Tiga Puluh Tahun Menantang Kerasnya Jakarta: Kisah Anto, Buruh Panggul Kayu dari Pekalongan

131

Thirty Years Braving the Harshness of Jakarta: The Story of Anto, a Wood Porter from Pekalongan

Potret buruh panggul kayu Kalibaru bertahan hidup

JAKARTA — Deru mesin pemotong kayu memecah suasana di kawasan Kalibaru, Jakarta Utara. Di tengah kepulan serbuk kayu yang beterbangan dan aroma kayu basah yang memenuhi udara, seorang pria mengangkat balok kayu berukuran besar ke atas pundaknya. Dengan langkah perlahan namun pasti, ia berjalan menuju tempat pemotongan.

Bagi sebagian orang, balok kayu itu hanyalah bahan bangunan biasa. Namun bagi Anto (45), balok-balok itulah yang menghidupi istri dan kedua anaknya di Pekalongan, Jawa Tengah.

“Kerja apa aja saya mah, yang penting halal,” ujar Anto saat ditemui di sela-sela pekerjaannya, Sabtu (1/8/2026).

Berjuang Sejak Usia Belia

Pria asal Pekalongan ini bukanlah orang baru di ibu kota. Ia pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta pada tahun 1994 saat usianya masih belia, membawa mimpi yang sama seperti jutaan perantau lainnya: harapan akan kehidupan yang lebih baik.

Namun, tiga puluh tahun berlalu, harapan itu bertransformasi menjadi perjuangan panjang tanpa henti. Selama hidup di Jakarta, Anto tak pernah memilih-milih pekerjaan. Berbagai pekerjaan serabutan ia jalani demi mengais rezeki yang halal.

Sekitar dua tahun terakhir, Anto menggantungkan hidupnya sebagai buruh panggul di sebuah toko kayu kawasan Kalibaru. Tanpa keterampilan khusus, ia mengandalkan dua hal utama: tenaga fisik dan kemauan keras.

Jadwal Kerja Harian Anto:
• 07.00 WIB : Tiba di lokasi & mulai aktivitas
• 07.00 - 17.00 WIB : Proses pengawetan, bongkar muat, memotong, & memikul kayu
• 17.00 WIB : Bersih-bersih area kerja & bersiap pulang

Menantang Bahaya dan Beban Ratusan Kilogram

Hampir seluruh tahapan pekerjaan dilakukan secara manual. Mulai dari mencelupkan kayu ke cairan pengawet, membongkar muatan truk, hingga memotong kayu sesuai pesanan.

Tantangan terberat datang saat pesanan kayu berukuran besar tiba. Beban balok kayu yang dipikulnya bisa mencapai 150 kilogram—dipikul sendiri atau bersama rekannya.

Tak hanya beban berat yang mengancam fisiknya, serbuk kayu yang beterbangan juga menjadi risiko harian yang membahayakan.

  • Beban Fisik: Bahu mengeras, kapalan di telapak tangan, serta nyeri otot punggung dan persendian.

  • Risiko Penglihatan: Serbuk kayu sering masuk ke mata hingga memicu penglihatan kabur dan kelilipan.

  • Risiko Kecelakaan: Gangguan penglihatan sesaat saat memikul ratusan kilogram meningkatkan potensi bahaya fatal di area kerja.

“Serbuk kayu sering masuk ke mata. Kadang sampai enggak jelas lihat orang, berbayang karena kelilipan. Tapi ya mau gimana lagi, namanya juga kerjaan,” ungkapnya pasrah.

Tanpa Jaminan Sosial di Tengah Ketidakpastian

Sebagai pekerja informal borongan, pendapatan Anto sangat bergantung pada volume atau kubikasi kayu yang dikerjakan:

  • Saat Ramai: Mampu mengantongi Rp400.000 – Rp500.000 per hari.

  • Saat Sepi: Penghasilan merosot tajam tanpa ada kepastian nominal.

Di balik risiko pekerjaan yang tinggi, Anto hingga kini belum memiliki perlindungan jaminan sosial seperti BPJS Kesehatan maupun BPJS Ketenagakerjaan. Jika sakit atau mengalami kecelakaan kerja, seluruh biaya pengobatan harus ditanggung dari kantong pribadi.

Demi Masa Depan Anak di Kampung Halaman

Seluruh peluh dan pegal di bahunya ia persembahkan untuk keluarga di Pekalongan. Penghasilan yang tak tentu itu terus dihemat agar cukup untuk memenuhi kebutuhan dapur serta membiayai sekolah kedua anaknya.

Anto menyimpan tekad besar agar anak-anaknya memiliki nasib yang lebih baik dan tidak perlu bekerja kasar seperti dirinya.

  • Prinsip Hidup: “Kalau masalah cukup enggak cukup, ya dicukup-cukupin aja, yang penting bersyukur,” tuturnya sambil tersenyum.

  • Pandangan Terhadap Pemerintah: Anto tak menuntut banyak. “Harapan ke pemerintah? Ya namanya rakyat kecil mah gimana lagi, kadang enggak direspon juga,” ucapnya singkat.

Menjelang sore, deru mesin mulai mereda. Anto mengayunkan sapunya, membersihkan sisa-sisa serbuk kayu di lantai gudang. Esok hari, saat matahari terbit, bahunya akan kembali siap memikul beban yang sama demi senyum keluarganya di kampung halaman.

(Sumber : rri.co.id)

Exit mobile version