JAKARTA — Tren Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) masih menjadi ancaman nyata bagi dunia ketenagakerjaan di Indonesia. Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat, sebanyak 32.389 buruh telah kehilangan pekerjaan sepanjang paruh pertama tahun 2026.
Guncangan geopolitik dan gejolak ekonomi global ditenggarai menjadi faktor eksternal utama. Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Afriansyah Noor, menyatakan bahwa situasi global yang sedang tidak menentu memberikan dampak signifikan pada dunia usaha domestik.
“Memang PHK ini tidak bisa dihindarkan. Perusahaan tidak akan melakukan PHK kalau memang tidak terpaksa betul. Jadi kami menjaga iklim ini dengan sebaik-baiknya,” ujar Afriansyah di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta.
Ia juga menegaskan bahwa pemerintah mengawasi secara ketat agar setiap perusahaan yang terpaksa melakukan efisiensi tetap memenuhi seluruh hak pekerja, seperti pesangon, Jaminan Hari Tua (JHT), dan Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP).
Faktor Domestik dan Tantangan Daya Saing
Kendati tekanan global tidak bisa dihindari, Ekonom sekaligus Kepala Pusat Makroekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman, menilai faktor domestik memegang peranan kunci.
Menurutnya, negara tetangga seperti Vietnam dan Malaysia mampu meredam gelombang PHK dengan menarik relokasi investasi manufaktur berkat kepastian regulasi dan produktivitas yang tinggi.
“Tekanan global memang nyata, tetapi tingginya PHK di Indonesia juga menunjukkan masih adanya persoalan struktural yang perlu segera dibenahi,” jelas Rizal.
Pertumbuhan Ekonomi 5,61% yang Belum Berkualitas
Pemerintah sendiri tetap optimistis pertumbuhan ekonomi nasional mampu melaju di atas 5 persen pada Semester I-2026, setelah mencatatkan angka 5,61 persen (YoY) pada Kuartal I-2026.
Namun, Indef menilai pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya berkualitas dalam menyerap tenaga kerja.
Pertumbuhan Ekonomi RI
├── Ditopang: Padat Modal, Teknologi, & Komoditas (Serapan Tenaga Kerja Rendah)
└── Tertekan: Padat Karya/Tekstil, Alas Kaki, Furnitur (Serapan Tenaga Kerja Tinggi)
Rizal menjelaskan, penopang utama ekonomi saat ini adalah sektor padat modal. Sebaliknya, sektor padat karya justru terpuruk akibat:
-
Kenaikan biaya produksi
-
Pelemahan permintaan (buyer)
-
Tergerus persaingan barang impor
Akibatnya, elastisitas pertumbuhan ekonomi terhadap penyerapan tenaga kerja terus mengalami penurunan.
Industri Tekstil Daerah Terpukul
Dampak nyata pelemahan sektor padat karya ini salah satunya terjadi di Jawa Tengah. Dua pabrik garmen besar, yakni PT Victory Apparel di Semarang dan PT Samwon Busana Indonesia di Jepara, kini menghadapi krisis hebat hingga berpotensi menghentikan operasionalnya.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jateng, Ahmad Aziz, mengungkapkan bahwa PT Samwon Busana bahkan telah mengalami kerugian selama lima tahun berturut-turut sejak pandemi Covid-19 akibat masalah bahan baku dan permintaan pembeli. Sementara PT Victory Apparel mulai terpuruk sejak akhir 2025.
Pemerintah daerah bersama Disnakertrans memastikan terus mengawal proses restrukturisasi kedua perusahaan tersebut demi menjamin seluruh hak dan pesangon para pekerja terpenuhi sepenuhnya. (Sumber : kompas.com)
