Selat Hormuz Tetap Zona Perang, Risiko Kapal Tinggi Meski Gencatan Senjata Iran–AS Berlaku - lemspsi.com
Internasional

Selat Hormuz Tetap Zona Perang, Risiko Kapal Tinggi Meski Gencatan Senjata Iran–AS Berlaku

14
Kapal Gamsunoro milik PIS yang sempat tertahan sejak awal Maret 2026 akibat konflik Amerika Serikat dan Iran, Rabu, 24 Juni 2026, pukul 20.00 WIB berhasil melintasi titik kritis Selat Hormuz dengan aman - (Pertamina/Republika)

LONDON – Serikat pekerja pelaut dan perusahaan pelayaran internasional memutuskan untuk mempertahankan status Selat Hormuz sebagai zona operasi berisiko perang, menyusul masih terjadinya serangan terhadap kapal dagang di kawasan tersebut.

Keputusan itu diambil oleh Federasi Pekerja Transportasi Internasional (ITF) bersama Joint Negotiating Group, yang mewakili pemilik kapal dagang dunia. Mereka menegaskan, kondisi keamanan di Selat Hormuz masih sangat tidak stabil meski Iran dan Amerika Serikat telah menyepakati gencatan senjata.

“Risiko terhadap keselamatan jiwa pelaut masih signifikan dan situasi berubah sangat cepat,” demikian pernyataan bersama kedua organisasi tersebut.

Status “wilayah operasi serupa perang” di Selat Hormuz sendiri telah diberlakukan sejak 5 Maret lalu, setelah sejumlah kapal dilaporkan menjadi sasaran serangan. Status itu kini diperpanjang hingga sedikitnya 9 Juli dan akan terus dievaluasi setiap pekan.

Dengan penetapan ini, para pelaut berhak menerima upah ganda serta berbagai tunjangan risiko. Namun, kebijakan tersebut juga berdampak pada meningkatnya biaya operasional perusahaan pelayaran global.

Sejak pecahnya konflik pada 28 Februari antara Amerika Serikat–Israel dan Iran, dilaporkan sedikitnya 14 pelaut tewas dan lebih dari 40 kapal menjadi target serangan di jalur pelayaran strategis tersebut.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Italia menyebutkan kemungkinan masih terdapat puluhan hingga ratusan ranjau laut yang tersebar di kawasan tersebut. Proses pembersihan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar dua bulan karena ranjau yang digunakan tergolong modern dan kompleks.

Komandan Komando Operasi Gabungan Italia, Giovanni Maria Iannucci, mengatakan dibutuhkan kerja sama internasional untuk membersihkan jalur tersebut, termasuk keterlibatan negara-negara di luar kawasan Eropa.

Di sisi lain, Wakil Presiden Amerika Serikat J.D. Vance menyebutkan bahwa aktivitas pengiriman minyak melalui Selat Hormuz justru kembali meningkat, bahkan pada beberapa hari melampaui kondisi sebelum konflik terjadi.

Meski demikian, ketegangan di kawasan masih menjadi perhatian utama dunia, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi distribusi minyak dan gas global dari kawasan Teluk menuju pasar internasional.

sumber: Republika

 

Exit mobile version