JAKARTA – Kepedulian terhadap lingkungan ternyata bisa berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan pendapatan masyarakat. Hal itu terlihat di RT 005/RW 02, Petukangan Utara, Jakarta Selatan, ketika warga memanfaatkan limbah botol plastik menjadi produk bernilai ekonomi.
Program yang digagas Ketua RT Saifullah tersebut memberdayakan warga, termasuk pekerja serabutan dan pengemudi ojek, untuk mengolah botol plastik bekas menjadi berbagai jenis sapu.
Menariknya, kegiatan pembuatan sapu disesuaikan dengan aktivitas utama warga. Mereka dapat mengerjakannya pada waktu luang, terutama sore atau malam hari setelah menyelesaikan pekerjaan utama.
“Jadi, para pekerja serabutan tetap bisa mengerjakan pembuatan sapu ini di waktu luang mereka,” ujar Saifullah ketua RT. 005, Kelurahan Petukangan Utara, Demikian gambaran program pemberdayaan tersebut.
Bahan baku pembuatan sapu dikumpulkan melalui gerakan sedekah botol dari masyarakat serta kerja sama dengan sejumlah fasilitas umum di sekitar lingkungan, seperti rumah sakit dan gedung olahraga bulu tangkis.
Dari limbah tersebut, warga menghasilkan sedikitnya dua jenis produk, yakni sapu jalanan yang dijual dengan harga Rp35.000 dan sapu kasur seharga Rp25.000.
Produk buatan warga itu tidak hanya digunakan untuk kebutuhan sendiri. Pemasarannya telah merambah platform perdagangan digital sehingga pesanan dapat datang dari berbagai daerah.
Pesanan bahkan telah menjangkau sejumlah wilayah di Jawa Barat hingga Makassar. Kunjungan dari pihak kelurahan dan berbagai pihak lainnya juga turut membantu meningkatkan permintaan terhadap produk tersebut.
Yang tidak kalah penting, hasil penjualan dikelola secara transparan. Sebagian besar pendapatan diberikan sebagai upah tambahan bagi warga yang terlibat dalam proses produksi, sedangkan sebagian lainnya digunakan untuk mendukung kegiatan lingkungan di tingkat RT.
“Yang pertama, tentunya untuk yang bekerja. Yang kedua, untuk kegiatan-kegiatan di lingkungan,” ujar pengelola program tersebut.
Program ini juga diharapkan tidak berhenti pada produksi sapu. Warga didorong untuk terus berinovasi dan melihat sampah sebagai sesuatu yang memiliki nilai apabila dikelola dengan tepat.
Selain memberikan tambahan penghasilan, kegiatan tersebut menjadi sarana edukasi bagi masyarakat agar semakin memahami pentingnya memilah sampah.
“Karena ternyata sampah itu bisa bernilai jika dimanfaatkan lebih jauh lagi,” menjadi salah satu pesan utama dari kegiatan tersebut.
Kisah warga Petukangan Utara menunjukkan bahwa inovasi sederhana di tingkat RT dapat membuka peluang ekonomi baru. Pekerja serabutan yang sebelumnya hanya mengandalkan penghasilan dari pekerjaan utama kini memiliki kesempatan memperoleh pendapatan tambahan sekaligus berkontribusi menjaga kebersihan lingkungan.
Daur ulang sampah pun tidak lagi sekadar persoalan mengurangi limbah, tetapi dapat menjadi jalan menuju masyarakat yang lebih mandiri, produktif, dan kreatif.
(Sumber : kompas.com)
