Rupiah Melemah, Pengamat Ekonomi Sumsel Peringatkan Potensi PHK Massal dan Penurunan Daya Beli - lemspsi.com
Daerah

Rupiah Melemah, Pengamat Ekonomi Sumsel Peringatkan Potensi PHK Massal dan Penurunan Daya Beli

114

Rupiah Weakens, South Sumatra Economic Analyst Warns of Potential Mass Layoffs and Declining Purchasing Power

Sri Rahayu-Pengamat Ekonomi Sumatera Selatan-Foto Tangkapan Layar Youtube
SUMATERA SELATAN – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menimbulkan kekhawatiran terhadap kondisi perekonomian nasional, termasuk di Sumatera Selatan (Sumsel). Jika berlangsung berkepanjangan, tekanan nilai tukar tersebut dinilai berpotensi menurunkan daya beli masyarakat, menghambat aktivitas industri, hingga memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.

Pengamat Ekonomi Sumsel, Sri Rahayu, mengatakan pelemahan rupiah dapat berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap aktivitas industri dan kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Menurutnya, tekanan terhadap nilai tukar yang berlangsung dalam jangka panjang dapat meningkatkan beban biaya produksi, terutama bagi industri yang bergantung pada bahan baku atau barang impor. Kondisi tersebut berpotensi mendorong perusahaan mengurangi produksi apabila biaya operasional semakin sulit dikendalikan.

Dampaknya, perusahaan dapat menghadapi tekanan untuk mempertahankan kegiatan usaha dan tenaga kerja jika penurunan produksi terus berlanjut.

“Saat terjadi pelemahan rupiah yang berkepanjangan, potensi menekan daya beli masyarakat, menurunkan volume produksi industri, hingga memicu gelombang PHK massal,” ujar Sri Rahayu, Rabu (28/10/2026).

Pengangguran Berpotensi Meningkat

Selain mengancam keberlangsungan aktivitas industri, pelemahan ekonomi juga berpotensi meningkatkan jumlah pengangguran apabila perusahaan mengurangi tenaga kerja atau menghentikan operasionalnya.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, Moh. Wahyu Yulianto, menilai peningkatan pengangguran dalam skala besar dapat menimbulkan persoalan sosial. Salah satu risiko yang perlu diwaspadai adalah meningkatnya potensi tindak kriminalitas akibat tekanan ekonomi dan hilangnya sumber penghasilan masyarakat.

Karena itu, perkembangan kondisi ekonomi perlu menjadi perhatian apabila tekanan ekonomi terus berlanjut dan semakin banyak masyarakat kehilangan pekerjaan.

Kehilangan pekerjaan tidak hanya berdampak pada pendapatan pekerja, tetapi juga dapat memengaruhi kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan pokok, membayar biaya pendidikan, serta memenuhi kewajiban keuangan lainnya.

Aktivitas Perdagangan dan Investasi Ikut Terdampak

Wahyu juga menjelaskan bahwa penurunan aktivitas perdagangan dalam jangka panjang dapat memengaruhi kondisi usaha dan penerimaan negara.

Ketika transaksi ekonomi melemah, pendapatan pelaku usaha berpotensi mengalami penurunan. Kondisi tersebut dapat menekan kemampuan perusahaan maupun masyarakat dalam memenuhi kewajiban kredit kepada lembaga keuangan.

Di sisi lain, ketidakpastian ekonomi juga berpotensi memengaruhi kepercayaan investor dan memperlambat aktivitas perekonomian.

Apabila kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan penurunan daya beli dan produksi industri, tekanan terhadap dunia usaha dapat semakin besar. Dalam situasi tertentu, perusahaan berpotensi mengambil langkah efisiensi, termasuk mengurangi jumlah pekerja.

Oleh karena itu, perkembangan nilai tukar rupiah dan dampaknya terhadap sektor riil perlu terus dicermati. Upaya menjaga stabilitas ekonomi menjadi penting agar tekanan terhadap dunia usaha tidak semakin meluas dan berujung pada peningkatan pengangguran.

Meski demikian, pelemahan rupiah tidak serta-merta menyebabkan PHK massal. Besarnya dampak terhadap tenaga kerja akan bergantung pada durasi pelemahan nilai tukar, ketergantungan industri terhadap bahan impor, kemampuan perusahaan menanggung kenaikan biaya, serta kondisi permintaan pasar. (Sumber : sumsel.akurat.co)

Exit mobile version