YOGYAKARTA — Program Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR) mulai dijalankan pada 2026 sebagai upaya meningkatkan keterlibatan ayah dalam pendidikan anak di sekolah. Namun, implementasi program tersebut di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Yogyakarta menghadapi sejumlah tantangan karena latar belakang keluarga siswa yang sangat beragam.
Berbagai kondisi sosial menjadi kendala dalam penerapan program tersebut, mulai dari siswa berstatus yatim hingga orang tua yang bekerja sebagai buruh harian. Bagi keluarga pekerja harian, memenuhi anjuran sekolah agar ayah mengambil rapor bukan perkara mudah, karena waktu yang digunakan untuk datang ke sekolah berarti mengurangi kesempatan mencari nafkah.
Salah satunya dialami Maryadi, buruh serabutan asal Pajangan, Bantul. Ia berangkat sejak pukul 06.30 WIB demi bisa mengambil rapor anaknya sesuai anjuran sekolah. Untuk itu, Maryadi rela meninggalkan pekerjaannya yang menjadi sumber penghasilan keluarga.
Bagi pekerja harian seperti dirinya, beberapa jam meninggalkan pekerjaan berarti ada pemasukan yang hilang pada hari itu. Namun, ia tetap berusaha hadir karena ingin menunjukkan dukungan terhadap pendidikan anaknya.
Di sisi lain, ada pula wali murid yang tidak dapat mengikuti semangat program GEMAR karena kondisi keluarga yang tidak memungkinkan. Seorang ibu siswa mengaku harus datang sendiri mengambil rapor anaknya karena sang suami telah meninggal dunia pada awal 2020 saat pandemi COVID-19.
“Suami saya sudah meninggal awal tahun 2020 saat pandemi COVID-19, jadi saya yang mengambil rapor anak meski ada program GEMAR,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Kisah-kisah tersebut menjadi gambaran bahwa pelaksanaan GEMAR di lapangan tidak selalu berjalan mulus. Di satu sisi, program ini dinilai positif karena mendorong keterlibatan ayah dalam pendidikan anak. Namun, di sisi lain, sekolah juga dihadapkan pada realitas sosial keluarga siswa yang berbeda-beda.
Tidak semua siswa masih memiliki sosok ayah, sementara sebagian lainnya berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi yang membuat orang tua harus bekerja tanpa mengenal waktu. Karena itu, implementasi GEMAR dinilai perlu dilakukan secara fleksibel dengan mempertimbangkan kondisi masing-masing keluarga.
Dengan berbagai tantangan tersebut, penerapan GEMAR di MAN 1 Yogyakarta tidak sekadar menjadi upaya menghadirkan ayah di sekolah saat pembagian rapor, tetapi juga menjadi pengingat bahwa kebijakan pendidikan perlu disesuaikan dengan keragaman kondisi sosial keluarga siswa agar tetap berjalan secara manusiawi dan inklusif. @kg_krd
