JAKARTA – Sejumlah perusahaan besar mulai mengumumkan rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) jauh sebelum pelaksanaannya. Strategi ini dinilai dapat memberikan waktu bagi karyawan untuk mencari pekerjaan baru, tetapi juga berpotensi meningkatkan kecemasan, mengganggu produktivitas, hingga memicu kelelahan kerja atau burnout.
Salah satu contohnya adalah Nike. CEO Nike Elliott Hill pada 1 Oktober 2026 menyampaikan bahwa perubahan model operasional perusahaan akan berdampak pada pengurangan tenaga kerja yang penentuannya baru dilakukan mulai 2027 dan seterusnya.
Rencana serupa muncul setelah merger Paramount dan Warner Bros. Discovery. CEO Skydance David Ellison dan Co-CEO Ynon Kreiz menyatakan bahwa kesepakatan tersebut membawa perubahan, termasuk keputusan sulit yang berdampak pada tenaga kerja.
Sementara itu, CEO Kroger Greg Foran pada 12 Oktober 2026 menyampaikan kepada karyawan mengenai rencana pengurangan 3.000 posisi di tingkat korporat selama tiga tahun ke depan. Langkah tersebut dikaitkan dengan perubahan kemampuan operasional akibat perkembangan teknologi.
Melansir CNBC Make It, Selasa (20/10/2026), pengumuman PHK yang pelaksanaannya masih berjarak beberapa bulan hingga beberapa tahun dapat menciptakan ketidakpastian bagi karyawan, terutama ketika perusahaan belum memberikan informasi terperinci mengenai waktu dan pihak yang terdampak.
Pengumuman PHK Jauh Hari Dinilai Merugikan Karyawan
Profesor perilaku organisasi dan kebijakan publik di Carnegie Mellon University, Denise Rousseau, mengatakan pengumuman PHK jauh sebelum pelaksanaan merupakan pendekatan yang berbeda dari praktik sebelumnya.
Menurut Rousseau, perusahaan biasanya memberitahukan keputusan PHK kepada karyawan yang terdampak ketika keputusan tersebut sudah ditetapkan, termasuk informasi mengenai hari terakhir bekerja.
Ia menilai ketidakpastian yang berlangsung lama dapat merusak kesejahteraan karyawan sekaligus reputasi perusahaan. Meski memberikan waktu untuk mempersiapkan diri, pengumuman lebih awal juga dapat membuat pekerja terus-menerus merasa terancam kehilangan pekerjaan.
Rousseau menyebut situasi tersebut dapat menjadi gangguan besar bagi tenaga kerja. Karyawan yang terus memikirkan kemungkinan PHK berisiko mengalami stres sehingga tidak dapat memberikan kontribusi terbaik bagi perusahaan.
Mengapa Perusahaan Mengumumkan Rencana PHK Lebih Awal?
Profesor manajemen sekaligus Direktur Pusat Sumber Daya Manusia di Wharton School, University of Pennsylvania, Peter Cappelli, menilai pengumuman PHK sejak dini dapat menjadi strategi perusahaan untuk meyakinkan investor.
Melalui pengumuman tersebut, perusahaan berusaha menunjukkan bahwa manajemen menyadari perlunya perubahan dan telah menyiapkan langkah restrukturisasi untuk meningkatkan efisiensi operasional.
Namun, pengumuman PHK juga berpotensi memengaruhi keputusan karyawan untuk bertahan atau mencari pekerjaan di tempat lain.
Cappelli menjelaskan, strategi tersebut tidak selalu berjalan sesuai harapan manajemen. Perusahaan justru berisiko kehilangan karyawan berkinerja tinggi yang memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan baru.
Sebaliknya, karyawan yang merasa kesulitan memperoleh pekerjaan di tempat lain mungkin memilih bertahan meskipun berada dalam ketidakpastian.
Untuk mempertahankan pekerja yang dinilai penting selama proses restrukturisasi, perusahaan dapat menawarkan bonus retensi atau insentif lain kepada karyawan berprestasi dan mereka yang memegang posisi strategis.
Cappelli juga mengingatkan bahwa sebagian pemimpin perusahaan mungkin menganggap ancaman kehilangan pekerjaan dapat mendorong karyawan bekerja lebih keras. Namun, pendekatan tersebut bukanlah cara yang efektif untuk meningkatkan motivasi dalam jangka panjang.
Risiko Burnout hingga Produktivitas Menurun
Ketidakpastian mengenai PHK dapat memicu beragam respons di kalangan karyawan.
Sebagian pekerja mungkin berusaha menghindari perhatian manajemen karena khawatir masuk dalam daftar PHK. Sebagian lainnya justru berusaha meningkatkan visibilitas dan menunjukkan kinerja agar dianggap penting bagi perusahaan.
Namun, menurut Cappelli dan Rousseau, upaya tersebut tidak menjamin seseorang terhindar dari PHK.
Bekerja di bawah tekanan selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, dapat meningkatkan risiko burnout. Karyawan mungkin terus memaksakan diri untuk membuktikan kontribusinya tanpa mengetahui apakah posisi mereka akan dipertahankan.
Situasi ini pada akhirnya dapat merugikan pekerja maupun perusahaan. Selain berdampak pada kesehatan dan kesejahteraan karyawan, tekanan berkepanjangan juga berpotensi menurunkan produktivitas serta mengganggu proses restrukturisasi.
Apa yang Sebaiknya Dilakukan Karyawan?
Bagi karyawan yang mendengar adanya rencana PHK, Cappelli dan Rousseau menyarankan agar mereka mempertimbangkan peluang kerja di perusahaan lain.
Mencari pekerjaan baru sebelum keputusan PHK ditetapkan dapat menjadi salah satu langkah untuk mengurangi risiko kehilangan penghasilan. Meski demikian, proses perekrutan yang lambat dapat menjadi tantangan tersendiri bagi pencari kerja.
Karyawan juga perlu memahami bahwa rencana restrukturisasi perusahaan masih dapat berubah. Keputusan yang diumumkan saat ini belum tentu terlaksana sepenuhnya sesuai jadwal awal.
Cappelli menekankan bahwa perusahaan tidak dapat memastikan secara tepat seperti apa kondisi bisnis dalam tiga tahun mendatang.
Rousseau menambahkan, banyak faktor eksternal yang dapat memengaruhi keputusan perusahaan, mulai dari kondisi ekonomi, harga energi, hingga situasi rantai pasokan.
Karena itu, pengumuman PHK jauh hari tidak selalu berarti jumlah karyawan yang terdampak atau waktu pelaksanaannya sudah final.
Di tengah ketidakpastian tersebut, karyawan perlu mempersiapkan alternatif karier tanpa mengorbankan kesehatan dan kesejahteraan. Sementara itu, perusahaan perlu menyampaikan informasi secara transparan agar proses perubahan bisnis tidak menimbulkan kecemasan berkepanjangan dan penurunan produktivitas di lingkungan kerja.(Sumber : Lipuan6.com)
