Industri Manufaktur Eropa Terancam Gelombang PHK, 300.000 Pekerjaan Diprediksi Hilang - lemspsi.com
Internasional

Industri Manufaktur Eropa Terancam Gelombang PHK, 300.000 Pekerjaan Diprediksi Hilang

84

European Manufacturing Industry Faces Wave of Layoffs, 300,000 Jobs Predicted to Be Lost

China Jajah Eropa, 300.000 Pekerja Terancam PHK-CNBC Indonesia

BRUSSELS — Industri manufaktur Eropa menghadapi ancaman gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang semakin besar akibat tekanan persaingan dari produsen komponen asal China. Uni Eropa (UE) diperingatkan segera mengambil langkah untuk membendung penetrasi produk China ke dalam rantai pasok industri kawasan tersebut.

Asosiasi perdagangan industri Eurometal memperkirakan sekitar 300.000 pekerjaan manufaktur akan hilang sepanjang sisa 2026 jika tekanan terhadap industri Eropa tidak segera diatasi.

Kekhawatiran tersebut muncul di tengah hubungan perdagangan yang semakin timpang. China disebut mencatat surplus perdagangan dengan Uni Eropa yang mencapai sekitar 1 miliar euro per hari, atau sekitar 360 miliar euro secara tahunan.

Eurometal membawa persoalan tersebut langsung ke pusat pengambilan kebijakan Uni Eropa di Brussels pada Senin (7/9/2026). Mereka menggelar aksi simbolis berupa prosesi membawa 10 peti mati di sekitar kantor pusat Komisi Eropa.

Peti-peti mati tersebut diberi tulisan seperti “daya saing Uni Eropa”, “pekerjaan industri”, dan “pabrik-pabrik Eropa” sebagai simbol peringatan terhadap ancaman deindustrialisasi di kawasan tersebut.

China Dinilai Semakin Menguasai Rantai Pasok

Eurometal menilai masuknya produsen China ke dalam rantai pasok Eropa bukan lagi sekadar persoalan perdagangan barang jadi. Produsen China disebut semakin memperkuat posisi mereka dengan memasok berbagai komponen yang digunakan oleh industri manufaktur Eropa.

Presiden Eurometal Alexander Julius mengatakan ekspansi China ke rantai pasok global merupakan strategi yang sudah direncanakan secara terbuka.

“China tidak merahasiakan apa yang sedang dilakukannya. Hal itu tercantum dalam rencana lima tahunan mereka,” ujar Julius kepada The Guardian.

Menurutnya, China tidak lagi sekadar ingin menjadi pemasok bahan mentah atau bahan baku. Negara tersebut ingin bergerak lebih jauh dengan menjadi pemasok produk jadi sekaligus menguasai berbagai bagian penting dari rantai pasok industri global.

“China tidak ingin menjadi pemasok bahan baku, mereka ingin menjadi pemasok produk jadi. Mereka ingin berada dalam rantai pasok produk-produk utama karena mereka tahu bahwa begitu mereka menguasai rantai pasok, mereka menguasai seluruh rantai nilai,” katanya.

Julius meminta Komisi Eropa melihat dampak ekspor China hingga tingkat komponen, termasuk logam dan bahan kimia yang digunakan dalam sekitar 90% aktivitas manufaktur.

Menurut dia, ketergantungan terhadap komponen impor dapat membuat industri Eropa kehilangan kemampuan produksi secara bertahap.

Industri Eropa Terjepit Biaya Tinggi

Uni Eropa sebenarnya telah mengambil sejumlah kebijakan untuk melindungi industri domestik dari persaingan produk China.

Pada 2024, UE memberlakukan tarif terhadap kendaraan listrik yang diimpor dari China. Kemudian pada Juni 2026, blok tersebut meningkatkan tarif terhadap impor baja asing.

Komisioner Perdagangan Uni Eropa Maros Sefcovic sebelumnya juga menyatakan ketimpangan perdagangan tahunan dengan China yang mencapai sekitar 360 miliar euro tidak dapat dipertahankan.

Kedua pihak kini sepakat menjalani pembicaraan selama tiga bulan hingga Oktober untuk mencegah konflik perdagangan yang lebih besar.

Namun, Julius menilai kebijakan tersebut belum menyentuh akar masalah yang menyebabkan industri Eropa kehilangan daya saing.

“Anda melihat PHK yang terus bertambah di industri-industri di tempat-tempat seperti Jerman. Media dan politisi bisa melihat konsekuensinya, tetapi mereka tidak memburu virus yang menyebabkannya,” ujarnya.

Ia mempertanyakan alasan perusahaan Eropa memilih memindahkan produksinya ke China dan India atau bahkan menghentikan operasionalnya.

Menurut Julius, salah satu penyebab utama tekanan tersebut adalah meningkatnya beban biaya yang harus ditanggung produsen Eropa, terutama di sektor logam.

Industri logam Eropa menghadapi berbagai beban, mulai dari tarif impor baja hingga pajak emisi karbon. Kondisi tersebut semakin berat karena industri logam membutuhkan energi dalam jumlah besar.

Sebaliknya, komponen yang diproduksi di China dinilai tidak menghadapi beban pungutan yang sama.

Julius juga menyoroti nilai tukar yuan yang menurutnya membuat produk China semakin kompetitif dibandingkan produk Eropa.

Perusahaan Tetap Membeli Produk China

Eurometal menilai persoalan tersebut semakin sulit diatasi karena perusahaan pada akhirnya akan mempertimbangkan kepentingan bisnis dan pemegang saham.

Julius memperkirakan perusahaan Eropa akan tetap membeli komponen dari China selama produk tersebut menawarkan harga dan efisiensi yang lebih kompetitif.

“Perusahaan harus memenuhi kepentingan pemegang saham dan akan terus membeli dari China, apa pun retorika politik yang keluar dari Brussels,” katanya.

Menurut Eurometal, persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan hilangnya sejumlah pekerjaan dalam jangka pendek.

Ketika perusahaan manufaktur meninggalkan Eropa, kawasan tersebut juga berisiko kehilangan investasi, keahlian industri, teknologi, serta ketahanan ekonomi dalam jangka panjang.

“Ketika manufaktur meninggalkan Eropa, Eropa tidak hanya kehilangan produksi tetapi juga investasi, pengetahuan dan ketahanan ekonomi jangka panjang,” kata Eurometal.

PHK Industri Bisa Tembus 1 Juta

Tekanan terhadap sektor manufaktur Eropa juga tercermin dalam analisis Komisi Eropa yang diterbitkan pada Juni 2026.

Komisi Eropa memperkirakan lebih dari 1 juta pekerjaan berpotensi hilang akibat kombinasi tingginya biaya energi dan tekanan persaingan global.

Salah satu perusahaan yang masuk dalam proyeksi tersebut adalah raksasa otomotif Jerman, Volkswagen, yang baru-baru ini mengonfirmasi rencana pemangkasan sekitar 100.000 pekerjaan hingga 2030.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan industri Eropa tidak hanya terjadi pada satu sektor, melainkan berpotensi merembet ke berbagai sektor manufaktur strategis.

China Tuduh UE Jalankan Proteksionisme

Di sisi lain, China berulang kali menuduh Uni Eropa menerapkan kebijakan proteksionisme untuk melindungi industri domestiknya.

Awal tahun ini, kantor berita pemerintah China, Xinhua, melaporkan Beijing mengancam akan mengambil tindakan balasan apabila Uni Eropa terus menargetkan perusahaan maupun produk asal China.

Meski hubungan perdagangan kedua pihak sempat memanas, Uni Eropa dan China kemudian menyepakati periode jeda selama tiga bulan untuk memberikan ruang bagi negosiasi.

Bagi industri Eropa, waktu tersebut dinilai krusial. Mereka mendesak Brussels tidak hanya berfokus pada tarif dan retorika perdagangan, tetapi juga menyusun strategi industri jangka panjang untuk menjaga kapasitas produksi, investasi, lapangan kerja, dan kemandirian rantai pasok Eropa.

Jika tidak segera dilakukan, tekanan biaya produksi, ketergantungan terhadap komponen China, serta persaingan global berpotensi mempercepat proses deindustrialisasi dan memicu gelombang PHK yang lebih besar di kawasan tersebut.

Exit mobile version