FamilyMart Jepang Izinkan Karyawan Muslimah Berhijab, Model Indonesia Ranisa Rahman Jadi Sorotan - lemspsi.com
Internasional

FamilyMart Jepang Izinkan Karyawan Muslimah Berhijab, Model Indonesia Ranisa Rahman Jadi Sorotan

87

Japan’s FamilyMart Allows Muslim Female Employees to Wear Hijabs, Indonesian Model Ranisa Rahman Draws Attention

FamilyMart storefront Japan photo. Sumber monocle.com

TOKYO — Jaringan ritel FamilyMart di Jepang resmi memberlakukan kebijakan baru mengenai standar penampilan karyawan yang dikenal dengan nama Famima Code. Aturan yang mulai diterapkan pada 1 September 2026 itu memberikan keleluasaan bagi karyawan Muslimah untuk mengenakan hijab saat bekerja di sekitar 16.500 gerai FamilyMart di Jepang.

Selain mengizinkan penggunaan hijab, kebijakan baru tersebut juga memberikan kelonggaran terhadap aturan warna rambut karyawan. Langkah ini dipandang sebagai upaya FamilyMart menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif dan mengakomodasi keberagaman karyawan.

Namun, perubahan tersebut turut memicu perdebatan di tengah masyarakat Jepang. Sebagian pihak menyambut positif kebijakan tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap keberagaman, sementara sebagian lainnya menilai perubahan standar penampilan itu tidak sejalan dengan budaya kerja tradisional Jepang.

Model Indonesia Jadi Wajah Kampanye

Model asal Indonesia, Ranisa Rahman (33), menjadi salah satu sosok yang menarik perhatian dalam peluncuran kampanye Famima Code. Ranisa tampil sebagai peraga busana hijab dalam presentasi resmi FamilyMart.

Ranisa merupakan ibu rumah tangga yang telah tinggal di Tokyo sejak November 2022. Ia juga merupakan lulusan S1 Ekonomi Syariah STEI Tazkia.

Kehadiran Ranisa dalam kampanye tersebut kemudian menjadi perbincangan luas di media sosial Jepang. Sejumlah komentar bernada negatif bermunculan, meskipun pada saat yang sama dukungan terhadap Ranisa dan kebijakan FamilyMart juga datang dari berbagai pihak.

Ranisa menilai kesempatan tersebut penting untuk menunjukkan bahwa hijab seharusnya tidak menjadi penghalang bagi perempuan Muslim untuk bekerja dan berpartisipasi dalam kehidupan publik.

“Hijab seharusnya tidak menjadi penghalang bagi wanita Muslim untuk mendapatkan kesempatan kerja atau berpartisipasi dalam kehidupan publik. Saya berharap langkah ini dapat memberikan rasa percaya diri yang lebih besar bagi wanita berhijab di Jepang,” ujar Ranisa.

Sudah Menduga Reaksi Publik

Dalam wawancara dengan Wolipop pada Kamis, 3 September 2026, Ranisa mengatakan dirinya sudah memperkirakan akan muncul reaksi sensitif dari sebagian masyarakat Jepang setelah kampanye tersebut diluncurkan.

Menurut dia, isu mengenai Muslim dan penggunaan hijab memang cukup sensitif di media sosial Jepang. Namun, ia menegaskan kondisi tersebut tidak menggambarkan kehidupan sehari-harinya di Jepang secara keseluruhan.

“Sejak banyak orang yang peduli dengan keadaan saya, sebenarnya satu, saya sudah menyangka dan menduga hal ini. Karena memang sebelum ini kita sudah banyak merasakan sensitifnya orang-orang Jepang, walaupun tidak semua, di media sosial itu memang sangat sensitif terkait isu orang Muslim yang menggunakan hijab, jadi saya sudah tidak heran,” kata Ranisa.

Ia juga memastikan dirinya tetap merasa aman selama tinggal di Jepang. Menurut Ranisa, kehidupan sehari-hari berjalan normal dan ia tidak mengalami perlakuan buruk secara langsung.

“Saat ini saya merasa baik-baik saja dan merasa aman, karena memang di Jepang hukumnya sangat bagus dalam melindungi semua orang yang legal berada di Jepang. Di kehidupan sehari-hari juga tidak ada perlakuan buruk atau kekerasan, semua warga Jepang baik-baik saja. Hanya memang di media sosial saja yang ramai dan itu sudah berlangsung sejak lama, jadi tidak perlu khawatir,” ujarnya.

Hijab Jadi Sarana Edukasi

Ranisa juga melihat kebijakan Famima Code sebagai kesempatan untuk memperkenalkan lebih jauh mengenai hijab kepada masyarakat Jepang.

Ia mengaku senang mendapat kesempatan untuk memperkenalkan hijab melalui kampanye perusahaan ritel besar tersebut.

“Saya senang sekali diberi kesempatan ini oleh FamilyMart untuk menyebarkan pemahaman tentang hijab di Jepang. Langkah ini bisa membuat orang Jepang jauh lebih tahu bahwa penutup kepala ini bernama hijab,” kata Ranisa.

Menurutnya, sejak FamilyMart mengumumkan aturan baru yang memperbolehkan staf menggunakan kerudung, masyarakat Jepang menjadi lebih familiar dengan istilah hijab.

Pengalaman tampil di televisi nasional Jepang juga disebutnya sebagai momen membanggakan. Ranisa mengatakan dirinya mendapat perlakuan baik dari tim produksi dan tidak mengalami diskriminasi selama proses berlangsung.

“Saya merasa senang dan bangga bisa mengenakan jilbab di televisi nasional Jepang. Banyak juga warga Jepang yang memberikan dukungan, jadi tidak semuanya menentang,” ujarnya.

Muncul Seruan Boikot

Di tengah dukungan tersebut, penolakan terhadap Famima Code juga bermunculan. Politisi Jepang Shunsuke Yamashita disebut mendesak agar tradisi dan adat istiadat Jepang tetap dilindungi dari pengaruh budaya luar.

Sejumlah pengguna media sosial bahkan menyerukan boikot terhadap FamilyMart. Beberapa komentar menyatakan ketidaksetujuan terhadap perubahan aturan perusahaan tersebut.

Salah satu komentar berbunyi, “Aku tidak mau mengakuinya. Famima bakal aku hindari.”

Komentar lain juga mempertanyakan alasan FamilyMart memberikan perhatian terhadap karyawan Muslim dan mengaitkannya dengan persoalan kebersihan serta kebiasaan budaya tertentu.

Meski demikian, reaksi tersebut tidak sepenuhnya mewakili masyarakat Jepang. Ranisa mengatakan dirinya juga menerima banyak dukungan, termasuk dari warga Jepang.

Keluarga Berikan Dukungan

Dukungan terhadap Ranisa juga datang dari keluarga dan sahabatnya. Salah satu sahabat Ranisa melalui akun Threads @zizisiregar mengunggah pesan dukungan setelah Ranisa menjadi sasaran komentar negatif di media sosial.

Sahabatnya meminta masyarakat memberikan dukungan kepada Ranisa dan FamilyMart karena menilai langkah perusahaan tersebut sebagai perubahan positif menuju lingkungan kerja yang lebih terbuka.

Ranisa kemudian membalas unggahan tersebut dengan menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan.

Ia mengatakan komentar negatif memang cukup banyak, tetapi dukungan dari masyarakat, termasuk warga Jepang, juga tidak sedikit.

“Saya sangat senang karena meskipun ada cukup banyak komentar kebencian, ada juga begitu banyak orang yang menunjukkan cinta dan dukungan, termasuk orang Jepang,” tulis Ranisa.

Suami Ranisa melalui akun Threads @adit_wp juga menyampaikan dukungannya. Ia mengatakan FamilyMart memberikan perlindungan dan dukungan kepada istrinya selama mengikuti kampanye.

Menurutnya, sebagian besar komentar negatif yang muncul tidak ditujukan secara personal kepada Ranisa. Ia justru mengajak masyarakat memberikan apresiasi kepada FamilyMart karena berani melakukan perubahan.

“FamilyMart sangat baik kepada istri saya dan memberikan dukungan. Lebih baik kita juga mendukung karena perusahaan itu benar-benar mau bertransformasi dan itu baik untuk kita semua ke depannya,” tulisnya.

FamilyMart Tegaskan Tidak Memaksakan Praktik Keagamaan

Manajemen FamilyMart memastikan kebijakan Famima Code bukan bentuk pemaksaan praktik keagamaan kepada karyawan lain.

Izin penggunaan hijab disebut sebagai bagian dari penyesuaian standar penampilan untuk memberikan ruang yang lebih luas bagi keberagaman karyawan.

Dengan kebijakan tersebut, FamilyMart berupaya menciptakan lingkungan kerja yang memungkinkan karyawan menjalankan keyakinan dan mengekspresikan identitasnya tanpa menghambat aktivitas pekerjaan.

Kebijakan ini sekaligus menjadi bagian dari perubahan standar penampilan di perusahaan ritel Jepang yang selama ini dikenal memiliki aturan cukup ketat mengenai penampilan karyawan.

Di tengah pro dan kontra yang muncul, kehadiran Ranisa Rahman dalam kampanye Famima Code menjadi simbol bahwa isu keberagaman, termasuk penggunaan hijab bagi perempuan Muslim, kini semakin mendapat ruang dalam lingkungan kerja dan ruang publik Jepang.

(Sumber : suaragarut.id)

Exit mobile version