AI Ubah Peta Keterampilan Dunia Kerja, Pekerja dengan Keahlian AI Terima Premi Upah hingga 62% - lemspsi.com
Nasional

AI Ubah Peta Keterampilan Dunia Kerja, Pekerja dengan Keahlian AI Terima Premi Upah hingga 62%

114

AI Reshapes Workforce Skills, AI-Skilled Workers Earn Wage Premiums of Up to 62%

ILUSTRASI - Pekerja AI

JAKARTA – Perkembangan pesat kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin mengubah kebutuhan dunia kerja global. Perusahaan kini tidak hanya mencari tenaga kerja yang memiliki kemampuan teknis, tetapi juga keterampilan AI, literasi digital, kemampuan analitis, serta kecakapan sosial yang dinilai menjadi modal utama menghadapi transformasi industri.

Berdasarkan laporan PwC AI Jobs Barometer 2026, perusahaan yang beroperasi di sektor dengan tingkat paparan AI tertinggi mencatat pertumbuhan produktivitas sebesar 34 persen pada 2025 dibandingkan 2018. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan perusahaan di sektor dengan paparan AI terendah yang hanya membukukan pertumbuhan produktivitas sebesar 24 persen.

PwC Indonesia Workforce Transformation Leader, Lita Dewi, mengatakan transformasi AI menuntut perubahan besar dalam pengembangan kompetensi tenaga kerja di berbagai sektor.

“Berbagai temuan global maupun nasional menunjukkan kebutuhan yang sama, yaitu peningkatan literasi digital dan AI, penguatan kemampuan analitis serta keterampilan sosial emosional, serta perluasan akses terhadap program peningkatan dan pembaruan keterampilan (reskilling) sepanjang di dunia kerja,” ujar Lita Dewi dalam siaran pers, Senin (13/7/2026).

Laporan tersebut juga mengungkap munculnya fenomena superstar companies, yakni kelompok perusahaan yang mampu memanfaatkan AI secara maksimal untuk meningkatkan produktivitas. Sebanyak 20 persen perusahaan dengan tingkat paparan AI tertinggi mencatat pertumbuhan produktivitas tenaga kerja rata-rata mencapai 163 persen dibandingkan 2018. Angka ini hampir lima kali lebih tinggi dibandingkan rata-rata perusahaan lain yang juga berada dalam kelompok dengan tingkat paparan AI tinggi.

Transformasi tersebut turut berdampak pada peningkatan nilai ekonomi keterampilan AI di pasar tenaga kerja. PwC mencatat rata-rata premi upah bagi pekerja yang memiliki keterampilan AI meningkat menjadi 62 persen, naik dari 57 persen pada tahun sebelumnya.

Besarnya tambahan penghasilan tersebut berbeda di setiap industri. Pada sektor consumer markets, pekerja dengan keterampilan AI memperoleh premi upah hingga 118 persen, sementara di sektor pemerintahan dan layanan publik premi upahnya sekitar 16 persen.

Di sisi permintaan tenaga kerja, kebutuhan terhadap pekerja yang menguasai keterampilan AI spesifik seperti prompt engineering, machine learning, dan kemampuan teknis AI lainnya juga meningkat tajam. Lowongan pekerjaan yang mensyaratkan keterampilan tersebut tumbuh sekitar 69 persen, atau hampir delapan kali lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pasar kerja secara keseluruhan yang hanya mencapai 9 persen.

Laporan itu juga menunjukkan bahwa jumlah pekerjaan yang membutuhkan keterampilan AI kini hampir dua kali lipat dibandingkan 2024.

Sektor teknologi, media, dan telekomunikasi menjadi industri dengan proporsi pekerjaan berbasis AI terbesar, yakni mencapai 11 persen dari total lowongan. Posisi berikutnya ditempati sektor jasa profesional dengan proporsi sekitar 6 persen. Sebaliknya, sektor kesehatan masih menjadi industri dengan kebutuhan keterampilan AI terendah, yakni kurang dari 1 persen.

Temuan PwC menunjukkan bahwa penguasaan keterampilan AI kini bukan lagi menjadi nilai tambah semata, melainkan semakin menjadi kebutuhan utama bagi pekerja yang ingin tetap kompetitif di tengah percepatan transformasi digital. Di sisi lain, perusahaan juga dituntut untuk memperluas program upskilling dan reskilling agar tenaga kerjanya mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi yang berlangsung semakin cepat. (Sumber : swa.co.id)

Exit mobile version