Jualan Kerupuk Opak dan Tisu di Lampu Merah Kendari, Evi Berjuang Biayai Kuliah Dua Anaknya - lemspsi.com
Daerah

Jualan Kerupuk Opak dan Tisu di Lampu Merah Kendari, Evi Berjuang Biayai Kuliah Dua Anaknya

194

Selling Opak Crackers and Tissues at a Kendari Traffic Light, Evi Struggles to Pay for Her Two Children’s College Education

Evi menjajakan kerupuk dan tisu di lampu merah Jalan Made Sabara, Korumba, Kendari. Foto Wa Ode Ilma Amalia ZumrahTelisik

KENDARI – Di tengah hiruk-pikuk kendaraan yang berhenti dan kembali melaju di persimpangan lampu merah Jalan Made Sabara, Kelurahan Korumba, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, Evi (42) terus berjuang mencari nafkah. Setiap hari, ia menjajakan kerupuk opak dan tisu demi memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus membiayai pendidikan ketiga anaknya.

Warga Kelurahan Alolama, Kecamatan Mandonga, Kota Kendari, itu telah menjalani pekerjaan tersebut sejak 2016. Selama hampir satu dekade, Evi bertahan berjualan di sejumlah titik persimpangan jalan di Kota Kendari untuk mendapatkan penghasilan yang bisa digunakan setiap hari.

Perjuangannya bukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga. Dua dari tiga anaknya kini sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi, sementara anak bungsunya masih duduk di bangku sekolah dasar.

Anak pertama Evi yang berusia 23 tahun mengambil jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dan tengah bersiap menghadapi wisuda. Anak keduanya, yang berusia 20 tahun, merupakan mahasiswa semester lima jurusan Hukum. Adapun anak ketiganya yang berusia 11 tahun masih duduk di kelas VI sekolah dasar.

Kondisi tersebut membuat Evi harus memutar otak agar kebutuhan keluarga dan biaya pendidikan anak-anaknya tetap terpenuhi.

“Saya menjual tisu sama kerupuk opak di lampu merah. Alasannya itu karena selain untuk kebutuhan sehari-hari, pastinya karena anak sekolah. Kebetulan anak saya ada dua orang yang kuliah,” kata Evi kepada Telisik.id, Jumat (2/10/2026).

Memilih Berjualan agar Bisa Mendapatkan Uang Setiap Hari

Bagi Evi, berjualan di persimpangan lampu merah menjadi salah satu cara untuk memperoleh pemasukan secara langsung. Penghasilan yang didapatkan memang tidak selalu sama setiap hari, tetapi uang dari hasil penjualan bisa segera digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Ia harus menanggung berbagai keperluan pendidikan anak-anaknya, mulai dari biaya makan, transportasi, hingga kebutuhan tempat tinggal anak yang harus menyewa kamar kos karena jarak rumah dan kampus cukup jauh.

Anak keduanya, khususnya, membutuhkan tempat tinggal dekat kampus agar tidak harus bolak-balik menggunakan ojek daring.

“Kalau dijualkan hari-hari dapat uang, alhamdulillah. Kalau dibandingkan kerja sama orang kan per bulan lama. Kebetulan anak cewek yang nomor dua ini mau kos karena jauh kalau bolak-balik naik ojek daring,” ujarnya.

Keputusan untuk berjualan setiap hari diambil karena Evi membutuhkan pemasukan yang dapat segera digunakan. Dengan penghasilan suaminya yang bekerja sebagai buruh bangunan dan tidak menentu, ia berusaha membantu menopang ekonomi keluarga melalui pekerjaannya sendiri.

Bangun Sejak Subuh untuk Menyiapkan Dagangan

Perjuangan Evi tidak dimulai ketika ia tiba di lampu merah. Sejak pukul 05.30 Wita, ia sudah bekerja menyiapkan kerupuk opak yang akan dijual.

Ia menggoreng dan mengemas sendiri kerupuk tersebut sebelum berangkat berjualan sekitar pukul 10.00 Wita. Setiap bungkus kerupuk opak dijual seharga Rp5.000.

Selain kerupuk opak, Evi juga menawarkan tisu kepada para pengguna jalan yang berhenti di persimpangan lampu merah.

Pekerjaan itu menuntutnya menjalani aktivitas sejak pagi hingga berhadapan langsung dengan kondisi jalanan yang tidak selalu bersahabat. Jumlah barang yang terjual bergantung pada situasi dan respons pembeli.

Ketika dagangan laku, hasilnya dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, ketika penjualan sepi, Evi harus tetap mencari cara agar kebutuhan rumah tangga dan pendidikan anak-anaknya tidak terbengkalai.

Dagangan Pernah Diambil Petugas, Kerugian Mencapai Rp225 Ribu

Di balik perjuangannya mencari nafkah, Evi juga menghadapi risiko berjualan di kawasan lampu merah. Ia mengaku beberapa kali mengalami penertiban oleh petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Dinas Sosial.

Salah satu kejadian yang masih diingatnya terjadi sekitar dua minggu sebelum wawancara. Saat itu, dagangannya diambil petugas ketika ia sedang berjualan.

Dari sekitar 60 bungkus kerupuk opak yang dibawanya, hanya tersisa sedikit. Evi memperkirakan kerugian akibat kejadian tersebut mencapai Rp225.000.

“Plusnya alhamdulillah bagus, minusnya dikejar-kejar. Dua minggu lalu jualan saya diambil, dari 60 bungkus kerupuk sisa sedikit, rugi sekitar Rp225.000. Sebenarnya dilarang dan kami yang salah, tapi kadang terpaksa karena keadaan,” tuturnya.

Pengalaman itu menggambarkan dilema yang dihadapi Evi. Di satu sisi, ia harus mencari penghasilan untuk mempertahankan kehidupan keluarga. Di sisi lain, aktivitas berjualan di persimpangan jalan membuatnya berhadapan dengan penertiban petugas.

Meski menyadari adanya larangan berjualan di lokasi tersebut, Evi mengaku keadaan ekonomi membuatnya tetap berusaha mencari nafkah dengan cara yang bisa ia jalani.

Pernah Menjadi Kuli Bangunan hingga Buruh Cuci

Sebelum berjualan kerupuk opak dan tisu, Evi telah mencoba berbagai pekerjaan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarganya. Ia pernah menjadi kuli bangunan, menerima pekerjaan sebagai buruh cuci panggilan, hingga membersihkan kebun milik warga.

Berbagai pekerjaan itu dijalaninya demi memperoleh penghasilan. Namun, kondisi ekonomi keluarga yang membutuhkan pemasukan rutin membuatnya memilih berjualan agar bisa mendapatkan uang setiap hari.

Untuk mencapai lokasi berjualan dari rumahnya di Kelurahan Alolama, Evi biasanya diantar anaknya atau menggunakan jasa ojek.

Rutinitas tersebut menjadi bagian dari perjuangan panjangnya mendukung pendidikan anak-anak. Ia harus menyiapkan dagangan, membawa barang ke lokasi penjualan, menawarkan produk kepada pengguna jalan, dan tetap memikirkan kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi.

Berharap Anak-Anak Memiliki Kehidupan Lebih Baik

Di tengah berbagai keterbatasan, Evi tetap menyimpan harapan besar terhadap masa depan ketiga anaknya. Ia ingin mereka menyelesaikan pendidikan dan memiliki kesempatan hidup yang lebih baik daripada kondisi yang sedang dihadapi keluarganya saat ini.

Bagi Evi, pendidikan menjadi salah satu jalan agar anak-anaknya dapat memperbaiki kehidupan keluarga di masa depan.

Harapan itu pula yang membuatnya terus bertahan, meski harus menghadapi dagangan yang tidak selalu laku, penghasilan yang tidak menentu, dan risiko penertiban di tempat berjualan.

Ketika kesulitan datang atau penjualan sedang sepi, Evi berusaha menguatkan diri dengan berdoa.

“Semoga anak-anak saya sukses dan bisa mengangkat derajat keluarga. Kalau sedih atau dagangan tidak laku, saya banyak-banyak istighfar saja,” pungkasnya.

Kisah Evi menjadi gambaran perjuangan seorang ibu yang berusaha mempertahankan kehidupan keluarga sekaligus membuka jalan pendidikan bagi anak-anaknya. Di tengah kerasnya persaingan mencari nafkah, ia terus menjalani pekerjaannya dengan satu harapan: ketiga anaknya kelak dapat menyelesaikan pendidikan dan meraih masa depan yang lebih baik. (Sumber : telisik.id)

Exit mobile version