Hari Ke-9 ILC 2026 di Jenewa: Delegasi Dunia Intensif Bahas Agenda Ketenagakerjaan Global dan Masa Depan Dunia Kerja - lemspsi.com
Internasional

Hari Ke-9 ILC 2026 di Jenewa: Delegasi Dunia Intensif Bahas Agenda Ketenagakerjaan Global dan Masa Depan Dunia Kerja

13

Committee on Recurrent Discussion (CD-R) yang berlangsung di Palais des Nations membahas penguatan dialog sosial dan tripartisme sebagai fondasi hubungan industrial yang harmonis. Pembahasan difokuskan pada peningkatan peran pemerintah, pengusaha, dan pekerja dalam merumuskan kebijakan ketenagakerjaan yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Suasana sidang Committee on Recurrent Discussion (CD-R) yang berlangsung di Palais des Nations

Jenewa, Swiss, 9 Juni 2026 – Memasuki hari ke-9 pelaksanaan International Labour Conference (ILC) Session 114, para delegasi dari berbagai negara terus disibukkan dengan rangkaian pembahasan di berbagai komite yang membahas isu-isu strategis ketenagakerjaan global. Sidang dan diskusi berlangsung secara paralel di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan International Labour Organization (ILO) di Jenewa.

Sejumlah komite utama yang menjadi perhatian pada hari ini antara lain Committee on Gender Equality (CDG) yang membahas Transformative Agenda for Gender Equality at Work di CICG. Komite ini berupaya merumuskan langkah-langkah konkret untuk mempercepat terciptanya kesetaraan gender di dunia kerja, termasuk penghapusan diskriminasi dan peningkatan perlindungan bagi pekerja perempuan.

Sementara itu, Committee on Recurrent Discussion (CD-R) yang berlangsung di Palais des Nations membahas penguatan dialog sosial dan tripartisme sebagai fondasi hubungan industrial yang harmonis. Pembahasan difokuskan pada peningkatan peran pemerintah, pengusaha, dan pekerja dalam merumuskan kebijakan ketenagakerjaan yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Di tempat terpisah, Committee on Decent Work in the Platform Economy (CNP) yang berlangsung di CICG melanjutkan pembahasan mengenai penyusunan standar internasional untuk menjamin pekerjaan yang layak bagi pekerja di sektor ekonomi digital dan platform. Isu perlindungan sosial, kepastian hubungan kerja, upah yang adil, serta keselamatan dan kesehatan kerja menjadi perhatian utama dalam komite ini.

Sedangkan Committee on the Application of Standards (CAN) yang berlangsung di gedung ILO terus menelaah laporan penerapan konvensi dan rekomendasi ILO oleh negara-negara anggota. Komite ini merupakan salah satu forum penting dalam memastikan kepatuhan negara terhadap standar ketenagakerjaan internasional yang telah disepakati bersama.

Delegasi Indonesia yang terdiri dari unsur pemerintah, pengusaha, dan pekerja turut aktif mengikuti seluruh rangkaian pembahasan tersebut. Salah satu delegasi pekerja Indonesia asal Banten, H. Dewa Sukma Kelana, S.H., M.Kn, yang juga menjabat sebagai Sekretaris DPD KSPSI Provinsi Banten, Sekretaris DPD FSP LEM SPSI Provinsi Banten, dosen Universitas Pamulang Kampus Serang, serta mahasiswa Program Doktor (S3) UIN Sunan Gunung Djati Bandung, menilai bahwa selain berbagai isu yang sedang menjadi fokus pembahasan ILC, perhatian terhadap pendidikan dan peningkatan kapasitas pekerja beserta keluarganya juga perlu menjadi bagian penting dalam agenda ketenagakerjaan global.

Peserta Delegasi unsur buruh dari Indonesia (Dewa Sukma) No dua dari kanan

Menurut Dewa, perubahan dunia kerja yang dipengaruhi digitalisasi, perkembangan teknologi, dan transformasi industri menuntut pekerja untuk terus meningkatkan kompetensi dan keterampilannya agar mampu beradaptasi dengan kebutuhan pasar kerja yang terus berubah.

“Pekerja tidak hanya membutuhkan perlindungan hak-hak normatif dan peningkatan kesejahteraan, tetapi juga akses yang lebih luas terhadap pendidikan dan pelatihan. Bahkan keluarga pekerja, khususnya anak-anak pekerja, perlu mendapatkan kesempatan pendidikan yang baik agar dapat meningkatkan kualitas hidup dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik,” ujar Dewa.

Ia menambahkan bahwa investasi pada pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia merupakan salah satu kunci dalam menciptakan tenaga kerja yang produktif, berdaya saing, dan mampu menghadapi tantangan ekonomi global di masa depan.

Lebih lanjut, Dewa juga mendorong agar ILO dan negara-negara anggota memperkuat kerja sama antara organisasi pekerja, pemerintah, dunia usaha, dan perguruan tinggi di berbagai negara dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Menurutnya, kolaborasi internasional dengan universitas dan lembaga pendidikan tinggi dapat membuka akses yang lebih luas bagi pekerja dan keluarganya untuk memperoleh pendidikan, pelatihan, sertifikasi kompetensi, riset terapan, serta pengembangan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja masa depan.

“Kerja sama dengan perguruan tinggi di seluruh dunia perlu diperkuat agar pekerja memiliki kesempatan yang lebih besar untuk meningkatkan kompetensi dan daya saingnya. Pendidikan tidak boleh berhenti ketika seseorang memasuki dunia kerja. Justru melalui pendidikan berkelanjutan dan kolaborasi global, pekerja dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan perubahan pasar kerja yang sangat cepat,” tegas Dewa Sukma Kelana.

Ia berharap hasil pembahasan ILC 2026 tidak hanya menghasilkan standar dan rekomendasi internasional, tetapi juga mendorong lahirnya program-program kemitraan internasional yang melibatkan serikat pekerja, pemerintah, perusahaan, dan perguruan tinggi guna memperluas akses pendidikan dan pelatihan bagi pekerja serta keluarganya. Dengan demikian, peningkatan kompetensi, kesejahteraan, dan kualitas hidup pekerja dapat berjalan seiring dengan perkembangan dunia kerja global.

Semangat dialog, kerja sama, dan solidaritas internasional terus mewarnai pelaksanaan ILC 2026 sebagai forum ketenagakerjaan tertinggi dunia yang mempertemukan perwakilan pemerintah, pengusaha, dan pekerja dari seluruh negara anggota ILO dalam merumuskan masa depan dunia kerja yang lebih adil, inklusif, dan sejahtera.(obn)

Exit mobile version