Hari ke-10 ILC 2026: Pengamanan di Kawasan PBB Jenewa Diperketat Jelang KTT G7, Delegasi Indonesia Siapkan Kepulangan dengan Membawa Hasil Sidang untuk Indonesia - lemspsi.com
Internasional

Hari ke-10 ILC 2026: Pengamanan di Kawasan PBB Jenewa Diperketat Jelang KTT G7, Delegasi Indonesia Siapkan Kepulangan dengan Membawa Hasil Sidang untuk Indonesia

16

ILC merupakan forum ketenagakerjaan terbesar di dunia yang diikuti oleh delegasi tripartit dari 187 negara anggota ILO. Negara-negara peserta berasal dari berbagai kawasan dunia, antara lain Indonesia, Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Tiongkok, India, Australia, Korea Selatan, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Turki, Brasil, Argentina, Meksiko, Afrika Selatan, Mesir, Nigeria, Kenya, Swiss, Belanda, Belgia, Spanyol, Portugal, Norwegia, Swedia, Denmark, Finlandia, serta negara anggota ILO lainnya yang mengirimkan perwakilan pemerintah, pengusaha, dan pekerja.

Delegasi Buruh Berpose di depan gedung ILO sebelum memasuki ruangan untuk bersidang

Jenewa, Swiss, 10 Juni 2026 – Memasuki hari ke-10 pelaksanaan International Labour Conference (ILC) Session 114, aktivitas internasional di Jenewa semakin padat. Selain masih berlangsungnya sidang tahunan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), Swiss juga bersiap menyambut berbagai agenda internasional penting menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 yang akan berlangsung pada 15–17 Juni 2026. Kondisi ini membuat kawasan internasional Jenewa, khususnya kompleks Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), terus disibukkan dengan berbagai kegiatan diplomatik dan pertemuan tingkat tinggi.

ILC merupakan forum ketenagakerjaan terbesar di dunia yang diikuti oleh delegasi tripartit dari 187 negara anggota ILO. Negara-negara peserta berasal dari berbagai kawasan dunia, antara lain Indonesia, Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Tiongkok, India, Australia, Korea Selatan, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Turki, Brasil, Argentina, Meksiko, Afrika Selatan, Mesir, Nigeria, Kenya, Swiss, Belanda, Belgia, Spanyol, Portugal, Norwegia, Swedia, Denmark, Finlandia, serta negara anggota ILO lainnya yang mengirimkan perwakilan pemerintah, pengusaha, dan pekerja.

Menjelang KTT G7, pengamanan di berbagai fasilitas internasional semakin diperketat. KTT tersebut akan dihadiri oleh para pemimpin negara anggota G7 yang terdiri dari Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, dan Jepang, serta pimpinan Uni Eropa. Selain itu, sejumlah kepala negara, pimpinan organisasi internasional, dan tamu undangan dari berbagai kawasan dunia juga diperkirakan akan menghadiri rangkaian kegiatan terkait forum tersebut.

Seiring meningkatnya mobilitas para delegasi, diplomat, pejabat negara, dan perwakilan organisasi internasional, otoritas Swiss bersama aparat keamanan internasional melakukan pengetatan pengamanan di sejumlah titik strategis, terutama di sekitar gedung PBB dan kawasan organisasi internasional di Jenewa.

Para delegasi yang mengikuti rangkaian kegiatan ILC kini menjalani pemeriksaan identitas yang lebih ketat sebelum memasuki area sidang. Pemeriksaan kartu identitas, pemindaian barang bawaan, hingga verifikasi akses dilakukan secara lebih intensif guna menjamin keamanan seluruh peserta dan kelancaran pelaksanaan agenda internasional yang sedang berlangsung.

Salah seorang delegasi pekerja Indonesia dari KSPSI, Dewa Sukma Kelana, yang juga dosen Universitas Pamulang (UNPAM) Kampus Serang, Banten, serta mahasiswa Program Doktor (S3) Hukum Keluarga Islam (HKI) Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN SGD) Bandung, menyampaikan bahwa peningkatan pengamanan merupakan hal yang wajar mengingat padatnya agenda internasional yang berlangsung di Swiss.

“Kami melihat adanya peningkatan pemeriksaan identitas dan pengamanan di sejumlah akses menuju gedung pertemuan. Namun seluruh proses berjalan tertib dan profesional sehingga tidak mengganggu jalannya sidang maupun aktivitas para delegasi. Fokus kami tetap mengikuti seluruh pembahasan dan memperjuangkan kepentingan pekerja Indonesia dalam forum internasional ini,” ujarnya.

Pada hari ke-10 ini, berbagai komite ILC masih melanjutkan pembahasan mengenai isu-isu strategis ketenagakerjaan global, termasuk penguatan dialog sosial, perlindungan pekerja, penyusunan standar internasional mengenai pekerjaan layak dalam ekonomi platform digital, serta berbagai rekomendasi untuk menjawab tantangan dunia kerja masa depan.

Menjelang berakhirnya rangkaian sidang ILC, delegasi Indonesia yang terdiri dari unsur pemerintah, pengusaha, dan pekerja akan segera kembali ke Tanah Air dengan membawa berbagai hasil pembahasan, rekomendasi, serta konvensi dan standar internasional ketenagakerjaan yang dihasilkan selama konferensi.

Dewa Sukma Kelana berharap seluruh hasil sidang tersebut dapat menjadi referensi penting bagi pemerintah dalam menyusun dan menyempurnakan regulasi ketenagakerjaan di Indonesia.

“Kami berharap berbagai hasil yang dibahas dan disepakati dalam ILC dapat segera ditindaklanjuti oleh Pemerintah Indonesia menjadi kebijakan dan peraturan yang memberikan manfaat bagi semua pihak. Konvensi, rekomendasi, dan standar internasional yang lahir dari forum ini diharapkan mampu memperkuat perlindungan pekerja, meningkatkan kesejahteraan, menjaga hubungan industrial yang harmonis, serta mendorong produktivitas dan keberlanjutan dunia usaha di Indonesia. Dengan demikian, manfaat dari forum internasional ini dapat dirasakan secara nyata, khususnya oleh para pekerja Indonesia,” tegasnya.

Dengan hadirnya delegasi dari 187 negara anggota ILO, Jenewa kembali menegaskan perannya sebagai salah satu pusat diplomasi dunia. Di tengah pengamanan yang semakin ketat menjelang KTT G7, para delegasi tetap fokus menyelesaikan agenda sidang demi menghasilkan kebijakan ketenagakerjaan yang lebih baik bagi pekerja dan dunia usaha di masa mendatang, sebelum kembali ke negara masing-masing membawa hasil-hasil penting dari konferensi internasional tersebut. Bagi delegasi Indonesia, partisipasi dalam ILC 2026 tidak hanya menjadi ajang diplomasi ketenagakerjaan internasional, tetapi juga momentum untuk membawa pulang gagasan, standar, dan praktik terbaik yang dapat diimplementasikan demi kemajuan hubungan industrial dan peningkatan kesejahteraan pekerja di Indonesia.(obn)

Exit mobile version