GIFA dan METEC Indonesia 2026 Dorong Penguatan Industri Logam dan Hilirisasi - lemspsi.com
Nasional

GIFA dan METEC Indonesia 2026 Dorong Penguatan Industri Logam dan Hilirisasi

98

GIFA and METEC Indonesia 2026 Drive the Strengthening of the Metal Industry and Downstream Processing

Seiring berkembangnya industri logam dan agenda hilirisasi Indonesia, kebutuhan terhadap teknologi dan kemitraan untuk memperkuat rantai nilai industri semakin penting

JAKARTA – Perkembangan industri logam dan agenda hilirisasi Indonesia mendorong kebutuhan terhadap teknologi, keahlian teknis, serta kemitraan internasional untuk memperkuat rantai nilai industri. Momentum tersebut akan dihadirkan melalui GIFA dan METEC Indonesia 2026 yang mempertemukan pelaku industri pengecoran logam, metalurgi, aluminium, hingga manufaktur hilir.

Diselenggarakan oleh Messe Duesseldorf Asia bersama PT Pamerindo Indonesia, bagian dari Informa Markets, GIFA dan METEC Indonesia memasuki edisi ketiga pada 9–12 September 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo).

Kedua pameran tersebut diperkirakan diikuti sekitar 260 perusahaan peserta dan menarik sekitar 6.000 pengunjung profesional. Teknologi yang ditampilkan mencakup pengecoran logam, metalurgi, besi dan baja, logam non-ferrous, fabrikasi, otomasi, hingga solusi manufaktur berkelanjutan.

GIFA Indonesia akan berfokus pada teknologi pengecoran, mulai dari proses peleburan, pembuatan cetakan dan coremaking, hingga simulasi, otomasi, serta pengujian. Sementara METEC Indonesia menghadirkan teknologi metalurgi dan produksi logam, termasuk besi dan baja, logam non-ferrous, tungku, refractory, pengerolan, pembentukan, pengendalian proses, hingga rekayasa pabrik.

Kehadiran kedua pameran tersebut diharapkan mempertemukan produsen, pengembang proyek, pemasok teknologi, perusahaan rekayasa, dan pemangku kepentingan lainnya untuk mengeksplorasi solusi di sepanjang rantai nilai industri logam, mulai dari bahan mentah hingga produk jadi.

“Indonesia sedang bergerak dari model ekspor sumber daya menuju model industri yang lebih terintegrasi, yakni mengolah sumber daya mineral dalam negeri bernilai tambah lebih tinggi, sekaligus memperkuat basis manufakturnya,” ujar Managing Director Messe Duesseldorf Asia Lars Wismer.

Menurutnya, industrialisasi hilir Indonesia menciptakan kebutuhan baru terhadap teknologi, keahlian rekayasa, pengembangan keterampilan, dan kemitraan.

“Melalui pameran ini, kami menyediakan platform bagi industri Indonesia untuk berinteraksi dengan pemasok global dan mengidentifikasi solusi untuk kebutuhan produksi nasional yang berkembang,” ujar Country General Manager Pamerindo Indonesia Lia Indriasari.

Investasi Hilirisasi Terus Menguat

Perkembangan agenda hilirisasi juga tercermin dari realisasi investasi nasional. Subsektor logam dasar, barang logam, mesin, dan peralatan mencatat investasi sebesar 8,44 miliar dolar AS atau sekitar 14,9 persen dari total investasi nasional pada semester I 2026.

Pada kuartal II 2026, investasi hilirisasi bauksit mencapai 2,25 miliar dolar AS, lebih tinggi dibandingkan investasi hilirisasi nikel sebesar 1,65 miliar dolar AS. Nilai investasi hilirisasi bauksit tersebut juga disebut meningkat 193 persen.

Kebijakan larangan ekspor bauksit sejak 2023 serta agenda hilirisasi pemerintah turut mendorong peningkatan investasi dan kapasitas produksi. Kondisi tersebut sekaligus meningkatkan kebutuhan terhadap teknologi proses, keahlian rekayasa, infrastruktur, sistem mutu, dan kemampuan manufaktur hilir.

Ketua Gabungan Industri Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (GAMMA) Dadang Asikin mengatakan industri pengerjaan logam dan permesinan nasional membutuhkan akses terhadap teknologi pemrosesan canggih serta keahlian teknis.

“Industri pengerjaan logam dan permesinan Indonesia membutuhkan akses terhadap teknologi pemrosesan canggih, keahlian teknis, serta kemitraan internasional seiring dengan berkembangnya kapasitas manufaktur domestik,” katanya.

Aluminium Jadi Fokus Baru

Aluminium menjadi salah satu sektor yang dinilai memiliki peluang besar dalam penguatan nilai tambah di dalam negeri.

Di Mempawah, Kalimantan Barat, fasilitas yang dikembangkan mencakup rencana smelter aluminium primer berkapasitas 600.000 ton per tahun serta Smelter Grade Alumina Refinery Tahap II dengan kapasitas 1 juta ton alumina per tahun.

Sementara itu, kapasitas terpasang smelter aluminium Inalum diindikasikan dapat mencapai 1,975 juta ton pada 2026, dibandingkan kebutuhan domestik aluminium primer yang berada di kisaran 520.000 ton per tahun.

Kondisi tersebut memperkuat kebutuhan pengembangan industri hilir aluminium, mulai dari lembaran, foil, ekstrusi, kawat, produk cor, hingga berbagai komponen manufaktur.

Untuk pertama kalinya, GIFA dan METEC Indonesia akan menghadirkan Aluminium Pavilion yang menampilkan teknologi peleburan, pengecoran, pengembangan paduan, fabrikasi, pemotongan presisi, daur ulang, pengolahan scrap, dan materials handling.

Sejumlah perusahaan internasional dijadwalkan berpartisipasi, di antaranya ABP Induction Systems GmbH, Foshan Diamond Technology Co., Ltd., dan Henan Tosta Machinery Co., Ltd.

“Aluminium berada di titik temu sejumlah prioritas industri Indonesia, termasuk hilirisasi, daya saing manufaktur, pembangunan infrastruktur, integrasi rantai pasok otomotif, serta transisi energi,” ujar Wismer.

Buka Peluang Penguatan Rantai Pasok

Seiring produsen Indonesia mulai beralih dari pembangunan kapasitas menuju peningkatan produksi operasional, kebutuhan terhadap teknologi dan peralatan manufaktur juga semakin besar.

Kebutuhan tersebut antara lain mencakup simulasi pengecoran, pengendalian mutu digital, peralatan fabrikasi dan pemotongan presisi, sistem material handling, serta otomasi.

Bagi produsen hilir dan original equipment manufacturers (OEM), perkembangan tersebut membuka peluang membangun hubungan pasokan sekaligus kesepakatan jaminan mutu sejak tahap awal.

Prospek industri tersebut tercermin dari kehadiran perusahaan nasional dan internasional dalam GIFA dan METEC Indonesia. Peserta antara lain Wilisindomas Indahmakmur, CITEC Engineering Indonesia, Wintherm Bara, Metallurgical Corporation of China Ltd, Ashapura International Limited, BEDA Oxygentechnik Armaturen GmbH, MAGMA Engineering Asia Pacific Pte. Ltd., KALFRISA S.A.U., dan Zobon (Lianyungang) Metal Technology Co. Ltd.

Kehadiran perusahaan dari berbagai negara, termasuk Tiongkok, Jerman, India, Singapura, dan Spanyol, menunjukkan semakin luasnya peluang kerja sama teknologi dan bisnis dalam pengembangan industri logam Indonesia.

“Dengan mendekatkan komunitas teknologi internasional yang relevan kepada industri Indonesia, kami bertujuan mendukung diskusi bisnis yang berbasis informasi mengenai produktivitas dan pengembangan rantai nilai,” kata Lia.

Melalui GIFA dan METEC Indonesia 2026, penguatan industri logam nasional diharapkan tidak hanya mendorong peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga mempercepat transfer teknologi, memperkuat rantai pasok, dan meningkatkan nilai tambah produk industri di dalam negeri.

(Sumber : republika.co.id)

Exit mobile version